BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Rabu, 18 Januari 2012

warta berita radio Nederland

FYI dari milis tetangga....



WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP

Edisi: Bahasa Indonesia

Edisi ini diterbitkan pada: Kamis 09 Juni 2005 14:20 UTC





* KASUS GIZI BURUK DAN BUSUNG LAPAR MAKIN MEMBURUK DI INDONESIA



Intro: Kasus gizi buruk dan busung lapar terus meminta korban. Dua anak berusia

di bawah lima tahun, Senin ini dilaporkan meninggal akibat gizi buruk di

Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian, di NTT setidaknya

sudah lima anak balita

yang meninggal. Sementara itu, di provinsi tetangganya, Nusa Tenggara Barat,

kasus busung lapar sudah merenggut 13 anak usia balita. Bagaimana busung lapar

ini ditangani? Berikut laporan kantor berita 68H di Jakarta.







Sejak Januari lalu hingga sekarang, Rumah Sakit Umum Mataram sudah merawat 70

orang pasien busung lapar atau kekurangan gizi dan 10 di antara mereka

meninggal dunia. Kepala staf medis RSU Mataram, Hananto Wiryo bahkan

memperkirakan jumlah penderita busung

lapar lebih dari itu, karena 30 persen pasien penyakit ini memilih pulang paksa

lantaran tidak punya uang. Bukan bagi sang pasien tapi bagi keluarga yang musti

menunggui di RS.



Bertambahnya jumlah pasien di pelbagai rumah sakit NTB, menurut Hananto, tidak

diikuti oleh kesiagaan pihak rumah sakit. Bantuan pemerintah pusat maupun

swadaya masyarakat terhadap penderita busung lapar, yang kebanyakan berupa

sembilan bahan pokok, juga

dinilainya tidak tepat. Ia malah mengusulkan agar bantuan itu lebih difokuskan

pada pemberian susu gratis kepada balita, lewat sejumlah posko. Usulan ini

menurut dia sudah diajukan pada gubernur setempat, namun belum mendapat

tanggapan.



Hananto Wiryo: Posko di sini membantu susu cair untuk semua anak harus diminum.

Satu hari satu gelas saja semua. Bukan saja yang kena busung lapar. Mungkin

yang mau busung lapar juga dikasih. Kalau ndak mereka jadi busung lapar. Selama

enam bulan dikasih

susu satu gelas seluruh balita, ya hilang busung lapar.



Kelaparan di NTB, yang oleh pemerintah sudah dinyatakan sebagai kejadian luar

biasa (KLB), selain telah merenggut 13 nyawa anak balita, ada 655 anak balita

lainnya yang memerlukan penanganan segera.



Sementara di NTT tercatat 66.000an lebih anak balita yang mengalami gangguan

kekurangan gizi, marasmus, kwarsiorkor, dan busung lapar. Rinciannya, kurang

gizi 55.000an orang, gizi buruk 11.000 orang, marasmus 122 orang, kwarsiorkor

dan busung lapar enam

orang. Pemerintah daerah NTT mengaku telah mengeluarkan dana sebesar Rp. 30

juta bagi 16 kabupatennya guna penangganan kasus busung lapar. Dana itu sengaja

dibagi rata pada semua kabupaten provinsi, meski kasus busung lapar baru

diketahui pada 12

kabupaten NTT. Juru bicara Pemda NTT, Umbu Saga Anakaka menjelaskan, pembagian

rata dana itu disebabkan pertimbangan gubernur, yang menilai bahwa semua

kabupaten berpotensi kena busung lapar. Dana itu juga dimaksudkan bagi

pelayanan kesehatan di

masing-masing kabupaten. Gubernur juga meminta masing-masing bupati

memprioritaskan masalah kesehatan di wilayah mereka dengan lebih menggalakkan

peran pos pelayanan terpadu Posyandu dan kadernya, serta puskesmas keliling.

Sejumlah instansi it

u ber

tugas memberi penyuluhan kesehatan dan gizi kepada masyarakat serta pemberian

makanan tambahan bagi anak-anak sekolah dan balita. Semua RS bahkan membebaskan

biaya pengobatan.



Umbu Saga Anakaka: Gubernur telah memerintahkan biro keuangannya agar membantu

dana daerah yang terkena bencana agar kabupaten bisa mengatasi masalah kejadian

luar biasa ini. Pemerintah Nusa Tenggara Timur telah menyediakan masing-masing

kabupaten 30 juta

untuk membantu penanggulangan ini.



Jaminan pembebasan biaya pengobatan bagi penderita busung lapar juga diberikan

oleh Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari. Kebijakan itu bahkan berlaku untuk

semua rumah sakit di semua provinsi dengan batas waktu yang tidak ditentukan.



Langkah ini merupakan bagian upaya darurat departemen kesehatan terhadap

penyakit busung lapar yang terjadi di hampir seluruh provinsi di Indonesia.

Pemerintah mengakui busung lapar juga terjadi di Sumatera Barat, Jawa Timur,

Wamena-Papua, Buyat Sulawesi

dan Nias, Sumatera Utara.



Siti Fadhilah Supari: Jadi gini, kalau ada busung lapar masalah emergencynya

masalah menteri kesehatan. Saya tugasnya mengobati orang busung lapar, yang

kena infeksi paru dsb. Harus segera diobati, karena orang yang busung lapar

cepat sekali kena infeksi.

Rumah sakitnya harus gratis. Obat-obatannya telah kita sediakan. Kita tidak

membatsi dalam sebulan dua bulan. Ini tidak tergantung bulannya, selalu ada

kok. Itu memang harus rutin.



Selain membebaskan biaya pengobatan bagi penderita busung lapar, departemen

kesehatan juga telah menginstruksikan semua wilayah untuk mencatat dan

melaporkan jumlah para penderita busung lapar kepada depkes. Namun, menurut

Supari, hal itu sulit dilakukan,

akibat adanya kebijakan otonomi daerah.



Bagaimana respons masyarakat terhadap langkah pemerintah mengatasi gizi buruk?

Lembaga Swadaya Masyarakat Rawan Pangan di NTT menemukan kasus gizi buruk anak

sebenarnya telah mengemuka sejak tahun lalu, saat terjadi gempa di Alor. Yus

Nakmofa dari LSM

Rawan pangan NTT menilai pemerintah sangat lamban dalam menangani masalah gizi

buruk. Kini semuanya telah terlambat, jumlah penderita semakin hari semakin

banyak.



Yus Nakmofa: Antispasi atau bantuan dari pemerintah bersifat sementara. Ketika

kasus itu mencuat hanya dibantu dan setelah itu berhenti lagi saya kasih contoh

banyak teman-temen LSM yang memberikan bantuan darurat dalam bidang kesehatan

tapi setelah itu

stop. Jadi belum ada program yang berkelanjutan. Ada beberapa hal yang kami

temukan di lapangan, ada beberapa LSM internasional yang memberikan biskuit dan

air mineral, untuk meningkatkan gizi anak-anak. Setelah itu kan berhenti, tidak

mengelola potensi

yang ada di wilayah tersebut untuk meningkatkan gizi anak-anak.



Yus menyarankan sebaiknya pemerintah setempat mengunakan hasil pertanian daerah

seperti kacang hijau dan beras merah ketimbang bantuan dari luar seperti

biskuit. Menurutnya, para penderita busung lapar itu tersebar di Timor Tengah

Utara, Timor Tengah

Selatan, Kupang, Alor, dan Lembata. Yus Nakmofa khawatir jumlah penderita gizi

buruk dan busung lapar akan bertambah menyusul krisis pangan dan air bersih

akibat kemarau panjang di NTT. Kebanyakan penderita busung lapar juga tidak

dapat berbuat banyak

karena keterbatasan ekonomi. Mereka sepenuhnya bergantung pada bantuan pihak

lain.



Tim Liputan 68H Jakarta melaporkan untuk Radio Nederland di Hilversum

Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT