![]() |
| makanan pokok masyarakat NTT. Masihkah bertahan? |
Penulis:
Palce Amalo
KUPANG--MIOL:
Kantor Kementerian Kesejahteraan Rakyat, Sabtu (17/6) mulai mengirim
beras kepada sekitar 16.000 keluarga yang terancam lapar di kabupaten
Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bantuan
beras itu terungkap dalam surat Menteri Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) yang ditujukan kepada Gubernur NTT
di Kupang. Surat ini meminta gubernur melakukan koordinasi dengan
Depot Logistik Kupang untuk mencairkan beras sebanyak 9,2 ton dan
selanjutnya dikirim ke Sikka.
Kepala
Biro Bina Sosial (Binsos) Setda NTT Sentianus Medi mengatakan, beras
bantuan pemerintah pusat akan dicairkan di gudang Depot Logistik
Maumere sekitar pekan depan.
"Masih
ada 167 ton beras di gudang Dolog Maumere dan proses pendistribusian
beras kepada keluarga yang terancam lapar tetap dilanjutkan,"
kata Sentianus Media kepada Media
Indonesia.
Dari
Maumere, Kepala Dinas Kesehatan Sikka Wera Damianus mengatakan, warga
di desa Rubit, kecamatan Kewapante masih makan putak meski sudah
berulang kali dilarang pemerintah daerah, tetapi mereka malah tetap
menebang pohon enau untuk diolah menjadi putak.
Dia
mengakui, warga yang berdiam terutama di dusun Watuwitir biasa makan
putak ketika persediaan bahan makanan menipis. Namun, pihaknya juga
belum menerima hasil laboratorium di Kupang yang tengah melakukan
penelitian terhadap kelayakan bahan makanan itu bagi kesehatan.
Meski
demikian, Wera mengakui warga yang baru pertama makan putak, teutama
anak-anak akan menderita pusing dan sakit kepala. Sementara anak-anak
balita menderita diare dan sakit perut.
Sementara
itu, Ketua Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) NTT
Yulius Nakmofa mengatakan ancaman kelaparan yang terjadi di Sikka
tidak muncul serta tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang. "Kami
ingin pemerintah memiliki cara pandang baru terhadap kelaparan yang
terjadi di NTT," katanya.
Karena
itu, bantuan pemerintah sepatutnya diberikan dalam bentuk
pemberdayaan masyarakat karena bantuan pangan bersifat sementara.
"Jika bantuan makanan yang diberikan habis, masyarakat akan
kembali lapar," kata Yulius Nakmofa. (PO/OL-06)













Tidak ada komentar:
Posting Komentar