BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Rabu, 18 Januari 2012

Pemerintah Kirim 9,2 Ton Beras ke Sikka


makanan pokok  masyarakat NTT. Masihkah bertahan?
Penulis: Palce Amalo
KUPANG--MIOL: Kantor Kementerian Kesejahteraan Rakyat, Sabtu (17/6) mulai mengirim beras kepada sekitar 16.000 keluarga yang terancam lapar di kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bantuan beras itu terungkap dalam surat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) yang ditujukan kepada Gubernur NTT di Kupang. Surat ini meminta gubernur melakukan koordinasi dengan Depot Logistik Kupang untuk mencairkan beras sebanyak 9,2 ton dan selanjutnya dikirim ke Sikka.
Kepala Biro Bina Sosial (Binsos) Setda NTT Sentianus Medi mengatakan, beras bantuan pemerintah pusat akan dicairkan di gudang Depot Logistik Maumere sekitar pekan depan.
"Masih ada 167 ton beras di gudang Dolog Maumere dan proses pendistribusian beras kepada keluarga yang terancam lapar tetap dilanjutkan," kata Sentianus Media kepada Media Indonesia.
Dari Maumere, Kepala Dinas Kesehatan Sikka Wera Damianus mengatakan, warga di desa Rubit, kecamatan Kewapante masih makan putak meski sudah berulang kali dilarang pemerintah daerah, tetapi mereka malah tetap menebang pohon enau untuk diolah menjadi putak.
Dia mengakui, warga yang berdiam terutama di dusun Watuwitir biasa makan putak ketika persediaan bahan makanan menipis. Namun, pihaknya juga belum menerima hasil laboratorium di Kupang yang tengah melakukan penelitian terhadap kelayakan bahan makanan itu bagi kesehatan.
Meski demikian, Wera mengakui warga yang baru pertama makan putak, teutama anak-anak akan menderita pusing dan sakit kepala. Sementara anak-anak balita menderita diare dan sakit perut.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) NTT Yulius Nakmofa mengatakan ancaman kelaparan yang terjadi di Sikka tidak muncul serta tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang. "Kami ingin pemerintah memiliki cara pandang baru terhadap kelaparan yang terjadi di NTT," katanya.
Karena itu, bantuan pemerintah sepatutnya diberikan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat karena bantuan pangan bersifat sementara. "Jika bantuan makanan yang diberikan habis, masyarakat akan kembali lapar," kata Yulius Nakmofa. (PO/OL-06)

Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT