Ryo Hansen <ryolusky13@gmail.com> May 29 04:36AM -0700
Perwakilan BNPB, BPBD Kabupaten/Kota dan dinas-dinas pemerintah terkait di
NTT, lembaga-lembaga internasional dan nasional, LSM dan perwakilan
masyarakat belum lama berselang mendiskusikan isu-isu yang berkaitan dengan
pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim, dan restorasi
lingkungan hidup. Acara yang berjudul Sub-Akademi Pembangunan Berbasis
Masyarakat Selatan-Selatan ke-5 (*South-South Citizenry Based Development
sub-Academy*/SSCBDA V) mengangkat tema “Meningkatkan Ketahanan Masyarakat
dalam Dunia yang Sedang Berubah” (*Strengthening Resilience in a Changing
World*).
SSCBDA V diselenggarakan oleh UNDP South-South dan Kemitraan untuk
Ketahanan (*Partners for Resilience*/PfR), suatu konsorsium internasional
yang dibentuk oleh 5 lembaga internasional, yakni Netherlands Red Cross,
Red Cross Climate Centre, CARE NL, Cordaid NL, dan Wetlands Internasional,
yang di Indonesia bermitra dengan Palang Merah Indonesia, Karina KWI, CARE,
PIKUL, INSIST, Bina Swadaya dan beberapa lembaga lokal lainnya. Mengusung
isu PRB, API dan pengelolaan serta restorasi ekosistem (PRE), PfR telah
bekerja selama 5 tahun di 9 negara berkembang di Asia (Indonesia, India,
Filipina), Afrika (Kenya, Mali, Uganda, Ethiopia) dan Amerika Selatan
(Nikaragua dan Guatemala).
PfR merupakan wadah kerjasama dalam pengurangan risiko bencana, adaptasi
perubahan iklim dan manajemen serta restorasi ekosistem, yang dilaksanakan
melalui tiga bidang strategis: penguatan ketahanan masyarakat, pengembangan
kapasitas dan dialog kebijakan di semua tingkatan. Kerjasama ini bertujuan
untuk mengurangi dampak bencana alam, perubahan iklim dan degradasi
lingkungan hidup terhadap penghidupan komunitas yang paling rentan. PfR
telah mengembangkan banyak inovasi yang memadukan tiga pendekatan
PRB-API-PRE. Salah satu program yang patut untuk diangkat adalah SSCBDA,
yang merupakan bagian dari upaya membangun jejaring dan menangkap
pembelajaran di tingkat global.
SSCBDA V yang digelar di Hotel Sasando Kupang menjadi menarik karena dapat
berfungsi efektif sebagai ruang pertukaran informasi dan gagasan antara
pemerintah, lembaga internasional, LSM dan masyarakat. Pertemuan antar
pemangku kepentingan ini antara lain melahirkan rekomendasi perlunya
penguatan upaya-upaya PRB-API-PRE di tingkat masyarakat dan kerjasama yang
lebih erat dengan instansi-instansi pemerintah terkait di tingkat
Kabupaten/Kota. Selain itu, acara ini juga menggali banyak kearifan lokal
dan praktik-praktik yang baik dalam PRB, API dan PRE di tingkat masyarakat
yang sebenarnya dapat diadopsi oleh pemerintah dan direplikasi di daerah
lain.
Pada hari terakhir, Rabu 23 Mei 2012, para peserta SSCBDA V membaur satu
sama lain dalam pasar inovasi yang digelar dari pagi sampai siang. Di pasar
inovasi ini, peserta dapat berbelanja atau sekedar melihat-lihat
barang-barang yang diperjual-belikan oleh teman-teman dari LSM dan lembaga
internasional. Bina Swadaya setempat, misalkan saja, selain menyediakan
beberapa buku dan katalog buku, juga memajang hasil kerajinan tangan dari
penduduk lokal berupa tas tangan perempuan yang terbuat dari bungkus kopi.
Tentu hal ini menjadi sangat menarik karena bungkus kopi yang biasanya
langsung dibuang dan mencemari lingkungan hidup dapat dijadikan tas yang
unik dan bermanfaat.
Untuk informasi lebih lanjut tentang event ini, silahkah hubungi
ryolusky@hotmail.com atau dianlestariningsih@gmail.com
Ryo Sirait
JICA staff at BNPB












Tidak ada komentar:
Posting Komentar