Badan
Nasional Penanggulangan Bencana akan menyelenggarakan The 5thAsian
Ministerial Conference On Disaster Risk Reduction (AMCDRR) di
Yogyakarta. Salah satu rangkaian kegiatan dalam konferensi tersebut
adalah studi tentang “Studi Pengintegrasian dan Sinkronisasi
Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana dalam
Perencanaan Pembangunan Nasional dan Daerah” yang dikelola di bawah
Working Group 1 AMCDRR. Lokasi studi antara lain di Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Papua Barat ,
Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dan provinsi Nusa Tenggara Timur
( Kabupaten Kupang).
Riset
ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tentang pengetahuan dan
praktik-praktik lokal masyarakat dalam menyikapi ancaman bencana dan
dampak perubahan iklim. Kajian ini juga ditujukan untuk menganalisis
kebijakan pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di
daerah serta pengintegrasian dan sinkronisasi keduanya dalam rencana
pembangunan Daerah.
Studi
dilaksanakan dengan pengumpulan data, diskusi kelompok terfokus atau
focus group discussion/FGD di tingkat komunitas dan Satuan Kerja
Pengendalian Daerah (SKPD) serta wawancara mendalam. Pengumpulan data
dilakukan di 3 Desa yaitu Desa Oelatimo Kecamatan Kupang Timur ,
Desa Tolnaku Kecamatan Fatuleu dan Desa Oelbiteno Kecamatan Fatuleu
Tengah serta Dinas / Badan di lingkup Kabupaten Kupang terkait API
dan PRB.
FGD
tingkat komunitas dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 2012 di Suba –
Suka Restoran Paradise -Kupang dihadiri oleh 15 orang utusan
masyarakat yang berasal dari Desa Oelbiteno, Desa Tolnaku,Desa
Oelatimo , Desa Mata air, Desa Noelbaki dan Desa Lifuleo .
FGD
tingkat para pihak (stakeholders)
dilaksanakan pada tanggal 4 Juli 2012 di Suba – Suka Restoran
Paradise Kupang dihadiri oleh 18 orang perwakilan lembaga (instansi
pemerintah daerah di tingkat provinsi, LSM dan perguruan tinggi).
Sedangkan wawancara mendalam dilaksanakan pada tanggal 18-24 Juni
dengan target responden masyarakat Desa , SKPD Tingkat Kabupaten
Kupang
Wilayah
kabupaten Kupang menjadi sasaran riset berangkat dari sejarah
bencana dan kondisi geografis
. Permukaan tanah di wilayah Kabupaten Kupang umumnya berbukit-bukit,
bergunung-gunung dan sebagian terdiri dari dataran rendah dengan
tingkat kemiringan rata-rata mencapai 450,Ketinggian
Kabupaten Kupang permukaan laut adalah antara 0 - 500 meter1.
kondisi fisik cenderung labil ,sensitif,tandus dan kering sehingga mudah longsor dengan kedalaman lapisan permukaan tanah relatif tipis . kondisi ini menempatkan kabupaten Kupang pada tingkat kerentanan tinggi bila berhadapan dengan ancaman (perubahan iklim) kekeringan ,hujan berlebihan dan hama pengganggu tanaman. Ancaman perubahan iklim secara langsung akan berpengaruh pada produksi pangan masyarakat yang menggantungkan hidup pada usaha bertani .
Berdasarkan
Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) 2011, Kabupaten Kupang
mempunyai skor 17 tingkat kerawanan bencana adalah 187 dengan kelas
rawan Tinggi ; sedangkan ancaman bencana antara lain banjir,
longsor,angin, kekeringan, cuaca ekstrem, epidemi dan wabah
penyakit. kondisi ini seharusnya membuat Pemerintah kabupaten
Kupang memiliki dokumen perencanaan yang secara tegas
mengintegrasikan API dan PRB dalam rencana pembangunan mereka.
Hasil
studi tentang pemahanan masyarakat terhadap API dan PRB memang secara
teori masih rendah, tetapi dalam praktek- praktek dalam kehidupan
sehari – hari telah dilakukan baik secara individu maupun kelompok
walaupun dalam skala kecil . Perubahan – perubahan yang terjadi
dilingkungan mereka dalam 10 tahun terakhir ini ,sangat dirasakan
terutama pada perubahan curah hujan,. Hujan yang biasanya turun pada
bulan oktober dan berakhir pada akhir maret telah bergeser dan tidak
menentu. Begitupun dengan angin ribut dan wabah penyakit.
Upaya
yang teah dilakukan masyarakat untuk mempertahankan asset
penghidupan mereka, seperti menanam pohon produktif, memelihara
ternak, mencari penghasilan tambahan diluar desa bahkan ada
anak-anak mereka harus bekerja ke luar negeri untuk menopang
kehidupan mereka yang dirasakan semakin sulit.
Dari
uraian diatas,beberapa catatan penegasan , Pertama , masyarakat dan
Pemerintah daerah belum memahami secara lengkap perubahan iklim dan
adaptasinya , tetapi lebih pada melihat pada perubahan musim yang
tidak menentu. Kedua, Banyak praktik-praktik lokal yang telah
dilakukan masyarakat dalam menghadapi API dan PRB tetapi belum
terdokumentasi dengan baik untuk direplikasikan dan dikembangkan .
Ketiga , BPBD sebagai salah satu lembaga yang diberi fungsi
koordinasi antar lembaga belum secara tegas dan terencana melakukan
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan PRB karena baru dibentuk.
Hal ini berpengaruh pada pola koordinasi dan anggaran terkait isue
PRB dan API. keempat, Proses perencanaan pembangunan telah
melibatkan masyarakat meskipun banyak masukan masyarakat belum
semuanya dapat terakomodir pemerintah.
Dengan
kondisi seperti ini maka perlu dilakukan sosialisasi pemahaman API
dan PRB dalam setiap kesempatan , dengan terlebih dahulu memperkuat
semua pengambil kebijakan maupun penganggaran . Dengan demikian maka
, secara sistimatis terjadi peningkatan pemahaman masyarakat dan
pemda terkait API dan PRB sehingga dapat terlihat jelas dalam setiap
perencanaan dan penganggaran di setiap dinas / badan/orgasnisasi
dalam lingkup kabupaten Kupang .
1WWW.kabupatenkupang
@.go.id












Tidak ada komentar:
Posting Komentar