Paru-paru bumi di teluk banten
Pagi ini, 26 september 2012, semua
peserta sudah bersiap –siap di depan loby hotel wisata baru- kota
serang. Setelah registrasi,satu-satu peserta mulai menaibi bus yang
akan mengantar peserta menuju pulau dua. Pulau dua adalah sebuah
cagar alam yang dimiliki kota Serang, dipilih sebagai tempat belajar
lapangan peserta tentang budidaya mangrove.
Perjalanan menuju pulau dua kelurahan sawah luhur memakan waktu 45
menit. Untuk
mencapai Cagar Alam Pulau Dua kami menggunakan bus yang disewa
panitia. Dari kota Serang dengan jarak tempuh sekitar 10 km .
Sejauh mata
memandang hanya sawah yang sudah dipanen terhampar. Pantas saja desa
ini dinamakan Sawah Luhur, karena yang ada cuma sawah, sawah, dan
sawah. Bebek-bebek berpesta pora di lahan sawah bekas panen ini
memakan siput dan belalang sehingga terjadi simbiosis mutualisme
antara petani dengan penggembala bebek.
bus
berhenti di jalan umum dan kami melanjutkan perjalan dengan sepeda
motor yang sudah menunggu kami. Sekitar 12 sepeda motor bolak balik
mengangkut rombongan untuk mencapai lokasi dengan jarak tempuh 3 km
melalui tambak-tambak tradisionil dengan waktu tempuh 5 menit.ngeri
juga ketika sepeda motor yang membawa kami harus meliuk-liuk diatas
pematang tambak yang lebarnya kurang dari 1 meter.
Tiba dilokasi , kami melakukan
penananam anakan mangrove yang sudah disiapkan panitia. Setiap orang
menanam satu pohon sebagai bentuk partisipasi dalam menghijaukan
lahan tersebut. Setelah itu kami di beri penjelasan oleh penjaga
cagar alam pulau dua,bapak
Pak Madsahi. beliau
menjelaskan bahwa Pulau
Dua terletak di Teluk Banten, Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen,
Kota Serang, Provinsi Banten . Tiga sungai yang bermuara ke Cagar
Alam Pulau Dua yaitu sungai Kepuh, sungi Padek, dan Citangsi, sungai
sungai tersebut berasal dari aliran irigasi yang berada dibagian
selatan Pulau Dua dan enam sungai yang mengalir dari Cagar Alam Pulau
Dua yaitu sungai Cigenteng, Cipacar, Bistrik, Cirukem,
Cikelapa, Citangsi. Merupakan tumpuan dari petani tambak tradisionil
yang dipergunakan untuk mengairai tambak–tambak yang berada
disekitarnya.
selain menikmati cagar alam diwilayah tersebut,tak lupa peserta melakukan penanaman anakan mangrove .












Tidak ada komentar:
Posting Komentar