Ancaman kekeringan merupakan salah satu ancaman bagi kabupaten RoteNdao (Ronda) setiap tahun. kekeringan yang melanda kabupaten Ronda tersebut, membutuhkan penanganan yang serius dari semua pihak sehingga dari tahun ketahun tidak menimbulkan persoalan baru yang terus meningkatkan kerentanan masyarakat , sehingga menimbulkan risiko yang besar bagi kehidupan masyarakat.
untuk meminimalisir kemungkinan yang timbul, Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Ronda bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan kegiatan penyusunan Rencana Kontijensi menghadapi bahaya kekeringan di kabupaten tersebut.
| Pak Agus,Fasilitator Renkon dari BNPB yang memfasilitasi kegiatan |
kegiatan penyusunan rencana kontijensi yang berlangsung selama 4 hari yaitu dari tanggal 7 sampai dengan 10 Mei 2014 difasilitasi oleh Tim Fasitator dari BNPB pusat, bertempat di hotel Bethania Ba'a.
Peserta yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut terdiri dari berbagai unsur,antara lain para Camat sekabupaten Ronda, Dinas /Instansi/ Badan lingkup Kabupaten Ronda, TNI, Polri serta lembaga Non Pemerintah.
| Peserta ,panitia dan Fasilitator pose bersama usai kegiatan |
kegiatan penyusunan rencana kontijensi berhasil menyusun draft rencana kontijensi ancaman kekeringan bagi kabupaten Ronda. namun ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam penyempurnaan rencana tersebut,sehingga rencana tersebut dapat dioperasionalkan dalam mengatasi bahaya kekeringan dikabupaten tersebut.
hal - hal yang perlu diperhatikan dalam penyempurnaan rencana tersebut ,sebagaimana disampaikan oleh ketua Forum PRB NTT, Julius Nakmofa yang juga turut terlibat sebagai peserta dalam kegiatan tersebut.
| Ketua FPRB-NTT memberikan komentar terkait draft renkon yg telah disusun |
hal - hal yang menjadi penekanan oleh ketua Forum PRB NTT , pertama ,definisi kekeringan harus dipertegas dalam dokumen rencana tersebut, apakah kekeringan akibat kekurangan air bersih atau karena kekurangan curah hujan, karena setiap wilayah memiliki konteks kekeringan yang berbeda- beda.kedua, masyarakat terkena dampak juga perlu dilihat kembali,sehingga dalam perencanaan distribusi bantuan pangan ,perlu dilihat kearifan lokal yang ada dimasyarakat. contoh sederhana, masyarakat kabupaten ronda hanya mengkonsumsi gula air (gula nira) apakah karena mereka kekurangan bahan makanan?.ketiga, perencanaan juga perlu memperhatikan kapasitas yang tersedia di kabupaten ini,sehingga tidak menimbulkan presepsi bahwa dokumen disusun untuk mendapatkan bantuan pihak provinsi dan pusat.keempat, dokumen ini juga perlu diuji dan direvisi secara terus menerus melalui latihan- latiah agar efektif digunakan ketika terjadi bencana kekeringan .(joes)












Tidak ada komentar:
Posting Komentar