(JUDUL DAN ISI BERITA TDK DIGANTI.FOTO-FOTO DIAMBIL DARI BPBD KOTA KUPANG)
KUPANG, TIMEX-
Kota Kupang sebagaimana wilayah yang ada di Indonesia, termasuk wilayah rawan bencana meliputi bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial. Dalam keadaan bencana, anak-anak menjadi kelompok yang rentan menjadi korban. Sedangkan bencana tidak bisa ditebak kapan terjadinya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang, Rabu (29/10) melakukan sosialisasi tentang 'Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim bagi Siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan se-Kota Kupang' di SMKN 1 Kupang.
Kegiatan tersebut dibuka Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan dan Hukum, Otniel J Pello. Sementara narasumber adalah Julius Nakmofa dan Davidzon Puas.
Sekertaris BPBD Kota Kupang, Erni Kelendonu menjelaskan, kegiatan bertujuan agar siswa mendapat pengetahuan dan memahami tentang upaya-upaya penanggulangan bencana dan siap menghadapi adaptasi perubahan iklim yang terjadi di Kota Kupang, menciptakan kesadaran diri dan kesiapan terhadap bencana dan membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana lewat lingkungan sekolah sebagai tempat membangun sumber daya manusia.
Dikatakan, bencana adalah peristiwa yang mengancam kehidupan masyarakat dan mengakibatkan timbulnya korban jiwa dan kerusakan lingkungan dan dampak psikologis. Dalam paparan materi oleh narasumber, disampaikan persoalan tersebut menjadi tanggung jawab bersama dan sebagai siswa tentunya harus mengetahui cara penanggulangan bencana sebelum bencana itu terjadi. Upaya yang dilakukan tentunya adalah pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan dan peringatan dini.
Untuk mengurangi efek rumah kaca agar bisa memperlambat laju pemanasan global, siswa diharapkan bisa membudidayakan gemar menanam pohon, menghindari pembakaran sampah organik maupun non organik, menghemat energi listrik, menggunakan kendaraan umum yang ramah lingkungan, merawat mesin secara berkala agar emisi gas buangan baik dan bagi industri bisa selalu memantau emisi gas buang limbahnya.
"Untuk mencegah bencana tentunya terdapat data dari setiap kelurahan, RT/RW dari setiap kelurahan, sehingga kita selalu siap dan bisa melakukan peringatan dini kepada masyarakat, sehingga mengurangi korban ataupun kerugian yang akan terjadi. Untuk saat ini, Kota Kupang sedang mengalami kekeringan dan dari wali kota telah menyediakan air bersih untuk masyarakat. Ada juga penanaman pohon di setiap mata air sehingga mata air tidak kering," jelas Erni.
Sosialisasi sekaligus diskusi bersama siswa, semakin membuat pemikiran siswa lebih terbuka dan semakin siaga untuk mencegah bencana. Siswa semakin mengerti dampak lingkungan, kerugian dan dampak psikologi yang akan dialami saat terjadinya suatu bencana, melakukan reboisasi, tidak membuang dan membakar sampah sembarangan, selalu bisa memaksimalkan efisiensi gas buangan akan mencegah persoalan yang tidak diinginkan terutama masalah kekeringan.
Ketua panitia, Ridwan Mayeli menjelaskan, dengan sosialisasi, maka tentu semakin banyak anak yang mengetahui cara mencegahnya. "Disini mereka hadir sebagai duta Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API), tentunya kami berharap mereka juga bisa berbagi dengan teman-teman sekolah agar bencana bisa terhindarkan," katanya. (mg23/ays)
Read more: http://www.timorexpress.com/pendidikan/peran-siswa-hadapi-bencana#ixzz3Hi0DC9Ma


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar