BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Jumat, 15 Januari 2016

NTT terancam kekeringan



 di salin dari Harian TIMEX , Rabu, 13 Januari 2016 

Curah Hujan di NTT Menurun Drastis
Diperkirakan Hujan Hanya Dua Bulan, NTT Terancam Kekeringan


KUPANG, TIMEX-Fenomena El Nino yang telah berlangsung sejak Juni 2015, diperkirakan terus berlanjut hingga Februari 2016. Tentunya kondisi ini sangat mempengaruhi curah hujan di NTT. Dalam diskusi yang diprakarsai oleh Pikul, Selasa (12/1) petang di kantor Pikul, Kepala BMKG Lasiana, Yuli Julianto mengatakan, fenomena El Nino berlangsung sejak Juni-Juli 2015 sampai sekarang sudah sangat terasa pengaruhnya terhadap curah hujan di NTT. Dan kondisi El Nino ini diperkirakan akan berlangsung sampai bulan Januari-Februari 2016 nanti.

Kondisi ini katanya, mempengaruhi pasokan air di wilayah NTT. Karena dengan melemahnya monsum Asia ini berdampak pada curah hujan rendah di Indonesia khusus di Indonesia bagian timur yakni NTT. "Saya kira kondisi ini membuat curah hujan di NTT sangat menurun, namun memang di akhir Februari dan Maret masih terjadi hujan, namun sangat rendah,"katanya.

Dikatakannya, bahwa adanya pergeseran awal musim hujan 2015 ke 2016 rata-rata mundur tiga dasarian dari normalnya. Dimana pada bulan Februari nanti pada umumnya curah hujan menengah namun di sebagian daerah Flores, Sumba Barat dan Pulau Timor bagian utara curah hujan agak tinggi. Sementara Maret kondisi curah hujan semakin rendah/menurun. Dengan demikian Rekomendasi kepada petani dengan kondisi seperti sekarang hanya bisa menanam tanaman yang tidak banyak membutuhkan air seperti kacang-kacangan.

Ketua Komisi V DPRD Provinsi NTT, Winston Rondo mengatakan bahwa harusnya dengan kondisi curah hujan yang rendah seperti sekarang, pemerintah NTT sudah harus bersikap, namun sampai saat ini pemerintah NTT terkesan cuek. Dan diakuinya bahwa wajah politik anggaran di NTT belum berpihak pada kondisi kekeringan, dan kemiskinan yang melilit rakyat NTT, tapi masih pada proyek pengerjaan jembatan, jalan dan bangunan-bangunan mewah.

"Kondisi seperti ini, bencana sudah di depan mata, namun sepertinya pemerintah masih cuek karena belum punya kebijakan yang tepat. Belum lagi anggota dewan masih sibuk berebut dapat jalan berapa, jembatan berapa dan lain-lain,"ungkap Politisi Demokrat itu.
Sementara Kabid Pencegahan BPBD Provinsi NTT, Jemi Mella berharap agar setelah El Nino, ada turun sedikit hujan agar dimanfaatkan petani untuk menanam walaupun hanya berupa kacang-kacangan. Dikatakannya, Untuk mengantisipasi kondisi kekeringan yang lebih extrim, maka BPBD Provinsi NTT telah bersurat ke Kabupaten/Kota untuk terus melakukan pemantauan terhadap desa-desa yang kritis untuk segera dilaporkan ke provinsi.

"Untuk antisipasi kondisi ini kita sudah beri surat ke Kabupaten/Kota untuk pantau kondisi desa-desa yang kritis, ini bentuk siaga kita. Dan kita mulai bentuk posko untuk pantau kondisi ini,"katanya. (kr8/boy)
 
Segera Cari Solusi Kekeringan di NTT

KEKERINGAN diperkirakan akan melanda sebagian besar wilayah di Provinsi NTT. Karena itu, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan jajarannya akan dipanggil ke DPRD NTT untuk membahas khusus kesiapan pemerintah menghadapi ancaman kekeringan dan kelaparan di NTT. Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno bahkan secara tegas meminta pemerintah untuk segera memetakan daerah-daerah yang terdampak. Hal ini ditegaskan Anwar di ruang kerjanya, Senin (11/1). "Supaya kita bedah dan petakan ini bersama. Ini penting. Artinya, kita kan tahu peta kekeringan di NTT di saat El Nino ini. Mana yang kering dan mana yang tidak. Kalau yang tidak ada hujan, pasti gagal tanam dan gagal panen. Pasti irigasinya terganggu, krisis air bersih. Lalu, langkah apa yang dilakukan pemerintah. Kita akan tanya, berapa cadangan beras kita,"terang Anwar menambahkan, pihaknya siap membahas anggaran untuk antisipasi kekeringan.

Menariknya, dalam rapat paripurna sebelumnya, sejumlah anggota DPRD mengungkapkan kecurigaannya terhadap pelaksanaan proyek-proyek raksasa di daerah ini. Mereka menuding para kontraktor dan pihak terkait menggunakan pawang hujan atau alat pembersih awan untuk menangkal hujan. "Saya minta TNI untuk melacak. Mereka (proyek Raknamo, red) pasang alat penembak awan menggunakan sinar lazer. Ada juga yang menggunakan kaca. Sehingga target pembangunan tercapai, tetapi mengorbankan masyarakat. Kita pikir kalau mereka pakai alat yang canggih, mestinya dia hanya di radius itu saja,"tandas Anwar. Malah, Anwar mengaku "Ada yang membenarkan bahwa betul, ada puluhan pawang hujan masuk kesini untuk menahan hujan."

Namun dengan kondisi yang ada saat ini menurut Anwar, sulit untuk dilihat mana salah dan mana benar. Pasalnya, jika hujan terus menerus lalu proyek senilai Rp 700 miliar lebih itu tersendat, tentu akan menimbulkan kerugian besar. Sementara, anggota Komisi I DPRD NTT, Ampera Seke Selan menegaskan, pemerintah sudah harus turun tangan dan melakukan pendataan di lapangan. Dia mengacu pada kasus kelaparan di TTS dan pemerintah kabupaten sendiri tidak mengetahuinya.

"Di mana-mana semua orang sudah teriak karena kekeringan. Jangan sampai pemerintah provinsi duduk di kantor lalu tunggu laporan. Ini bukan lagi kasus biasa tetapi sudah masuk dalam kasus luar biasa. Kalau perlu pemerintah menaikkan status darurat kekeringan. Ini bukan gagal panen tapi gagal tanam. Gubernur segera nyatakan status darurat kekeringan,"tandas Ampera. (cel/boy) 

Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT