KUPANG--MICOM:
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta
mengantisipasi ancaman kekeringan yang biasanya melanda daerah itu
pada setiap musim kemarau.
Direktur Forum Masyarakat Peduli Bencana NTT Yus Nakmofa mengatakan itu di Kupang, Selasa (5/7). "Aliran dana bantuan yang NTT terima, ternyata tidak membawa perubahan mendasar, jika kita hanya berada pada posisi respon (terhadap bencana kekeringan)," kata Yus.
Menurutnya, kekeringan yang terjadi di NTT selama berdampak rawan pangan serius. Akan tetapi respon terhadap kekeringan terjadi saat kekeringan tersebut muncul. Padahal seharusnya diatasi dengan menerapkan strategi adaptasi rawan pangan.
Strategi tersebut antara lain menyiapkan petani untuk menanam tanaman umur pendek saat kemarau seperti palawija. Alasanya, musim kemarau biasa berlangsung 8-9 bulan membuat persediaan air tidak cukup untuk tanaman umur panjang seperti padi.
Namun, tidak adanya strategi adaptasi rawan pangan mengakibatkan petani NTT selalu menghadapi persoalan yang sama setiap tahun yakni gagal panen dan gagal tanam. Kondisi ini membuat persediaan pangan menipis yang kemudian berdampak kepada krisis pangan dan kelaparan.
Sesuai catatan Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, pada Juni 2011, 13.043 hektare lahan sawah pada 2010 tidak diolah karena bencana kekekeringan. Kondisi ini membuat persediaan beras di daerah berkurang sehingga harus dipasok dari luar daerah. Tahun ini NTT kekurangan 214.358 ton beras. (PO/OL-04)
Direktur Forum Masyarakat Peduli Bencana NTT Yus Nakmofa mengatakan itu di Kupang, Selasa (5/7). "Aliran dana bantuan yang NTT terima, ternyata tidak membawa perubahan mendasar, jika kita hanya berada pada posisi respon (terhadap bencana kekeringan)," kata Yus.
Menurutnya, kekeringan yang terjadi di NTT selama berdampak rawan pangan serius. Akan tetapi respon terhadap kekeringan terjadi saat kekeringan tersebut muncul. Padahal seharusnya diatasi dengan menerapkan strategi adaptasi rawan pangan.
Strategi tersebut antara lain menyiapkan petani untuk menanam tanaman umur pendek saat kemarau seperti palawija. Alasanya, musim kemarau biasa berlangsung 8-9 bulan membuat persediaan air tidak cukup untuk tanaman umur panjang seperti padi.
Namun, tidak adanya strategi adaptasi rawan pangan mengakibatkan petani NTT selalu menghadapi persoalan yang sama setiap tahun yakni gagal panen dan gagal tanam. Kondisi ini membuat persediaan pangan menipis yang kemudian berdampak kepada krisis pangan dan kelaparan.
Sesuai catatan Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, pada Juni 2011, 13.043 hektare lahan sawah pada 2010 tidak diolah karena bencana kekekeringan. Kondisi ini membuat persediaan beras di daerah berkurang sehingga harus dipasok dari luar daerah. Tahun ini NTT kekurangan 214.358 ton beras. (PO/OL-04)













Tidak ada komentar:
Posting Komentar