BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Selasa, 12 Juni 2012

pelatihan PRBBK masyarakat Desa Tamakh

 Sumber : blogspot yayasan Lendola - alor

Rabu, 03 Agustus 2011

Mimpi Warga dan Pemerintah Desa Tamakh



Foto: Julius Ullu, Kades Tamakh


SETELAH mengikuti latihan Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) dan Pembuatan Kebijakan Publik Desa yang difasilitasi Yayasan Lendola-Alor atas kerja sama dengan Unied Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, warga Desa Tamakh mulai punya mimpi bersama untuk membangun desanya. Berikut petikan penuturan sejumlah warga dan pemerintah desa Tamakh;
Penuturan Kades Tamakh, Julius Ullu: Saya ingin masyarakat desa Tamakh terhindar dari bencana yang mengancam nyawa dan harta benda. Pelatihan PRBBK sangat bermanfaat sehingga kami akan terus memotivasi masyarakat untuk menerapkannya sehingga terhindar dari resiko bencana yang lebih besar.
Sedangkan kegiatan latihan Pembuatan Kebijakan Publik Desa, kegiatan yang sama pernah saya ikuti dengan pelatih dari Balai Besar BPMPD Malang satu minggu penuh di gedung SKB Wolatang, tetapi, ketika dalam pelaksanaannya saya masih meraba–raba terkait penyusunan Perdes. Dengan pelatihan ini saya rasa betul dan bagi saya ini adalah yang terbaik. Karena itu, atas nama warga desa Tamakh saya memberikan penghormatan khusus kepada Yayasan Lendola, UNDP dan pak Vinsent (Direktur Eksekutif Bengkel APPek NTT). Setelah kami kembali, saya yakin peserta tetap terus melayani, tingkatkan kerja sama dengan Yayasan Lendola. (**)

Kearifan Lokal; Siaga Kalau Awal Tebal Kemerahan Berarak


Foto: Serius pelajari materi latihan PRBBK


BENCANA alam tentu sudah sering terjadi sejak jaman dulu kala. Sudah tentu pula, ketika itu belum ada ilmu pengetahuan yang diperoleh masyarakat kita tentang tanda-tanda akan terjadinya bencana. Belum ada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang meramal akan terjadi gempa bumi, letusan gunung api, ramalan cuaca akan ada hujan lebat yang mengakibatkan banjir, tinggi gelombang laut dan sejenisnya. Masyarakat kita hanya mengandalkan tanda-tanda alam di sekitarnya yang diyakini sebagai pertanda akan ada bencana. Namun itu dijadikan sebagai kearifan lokal yang dapat digunakan masyarakat untuk bersiap siaga. Warga Desa Tamakh, Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor juga punya kearifan local melihat tanda alam.
Kepala Desa Tamakh, Julius Ullu mengatakan sejak jaman nenek moyang, sudah diyakini bahwa jika pada siang hari yang panas, tiba-tiba ada awan tebal kemerahan berarak, merupakan pertanda bencana. Wargapun mulai mewaspadai apapun jenis bencana dengan caranya masing-masing. Warga memukul periuk, gong atau moko untuk saling mengingatkan menghadapi bencana. (**)


Jika Ayam Berkokok Hanya Sekali

KEARIFAN lokal lainnya untuk siaga bencana yang dituturkan warga Desa Tamakh jika pada malam hari tiba-tiba ada satu ayam jantan berkokok nyaring satu kali. Jika ayam jantan berkokok sekali saja di malam hari, akan ada bencana, apapun jenis bencananya sehingga warga setempat akan selalu siaga, terutama ancaman bencana banjir.
Selain ayam berkokok, tanda alam lainnya yakni munculnya ulat serta hujan lebat yang turun lebih dari tiga hari. Tanda–tanda alam ini sangat membantu warga untuk selalu berwaspada.
Direktur Eksekutif Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) NTT, Yulius Nakmofa sebagai fasilitator latihan PRBBK berpendapat bahwa masyarakat harus tahu tanda–tanda peringatan dini di wilayahnya, termasuk kearifan lokal itu.
"Kumpulkan kembali informasi–informasi serta membangun sistem peringatan dini seperti informasi dari pemerintah atau BMKG dan rencana kontijensi, kita harus jaga–jaga,”Nakmofa saat memberikan materi PRBBK di gereja Ebenheiser Hombul,"Maret 2011 lalu.
Dari berbagai jenis bencana yang pernah melanda wilayah desa Tamakh, bencana banjir, rawan pangan, dan angin adalah bencana utama yang sering melanda wilayah itu. Selain itu ada bencana diare, penyakit ternak, kebakaran, kekeringan dan gelombang laut.
Menurut warga desa Tamakh, bencana banjir sering melanda wilayah mereka yakni pada bulan Februari dan Maret. Bencana banjir ini diakibatkan karena sebagian hutan sudah gundul akibat sistim ladang berpindah dengan cara pengolahan tebas bakar. Sedangkan angin topan sering terjadi pada bulan Januari-Maret. Sementara bencana diare yakni pada bulan Juni-Agustus. Ini diakibatkan karena air minum yang tidak bersih dan tidak dimasak terlebih dahulu. Secara umum, Nakmofa menilai warga desa Tamakh belum begitu siap untuk menghadapi bencana. Karena itu, harus budayakan penanggulangan bencana mulai dari sekarang.
"Memang sudah siap, tapi masih setengah hati. Artinya kita belum siapsiaga dalam menghadapi bencana ke depan. Budayakan penanggulangan bencana dari sekarang,"katanya. (**)

Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT