BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Rabu, 27 Maret 2013

investigasi hama belalang 2004


(dokumen ini  ada di arsip PMPB,tdk di tulis siapa yg melakukan investigasi,tetapi dokumen ini sebagai pembelajaran bagi semua pihak dalam melakukan penelitian/investigasi mengenai hama belalang di sumba barat)


Kabupaten           : Sumba Barat

Kecamatan           : Kodi
Desa                     : Hamonggu Lele dan Homba Karipit

Gambaran Umum


Desa Hamonggu Lele dan Homba Karipit di kecamatan Kodi adalah dua desa bertetangga yang berada sekitar 80 kilometer dari Waikabubak, ibu kota Sumba Barat. Kedua desa ini tidak memiliki sumber air baik untuk mengairi lahan persawahan maupun untuk minum. Karena itu, di desa Hamonggu Lele dan Homba Karipit tidak terdapat lahan basah. Petani hanya mengandalkan curah hujan yang berlangsung selama 4 sampi 5 bulan untuk menanami lahan kering dengan berbagai tanaman pertanian seperti padi, kacang-kacangan, ubi-ubian dan jagung.

Untuk memenuhi kebutuhan akan air minum, warga berbondong-bondong  mengambil air ke sungai Waikelo menggunakan jerigen ukuran 5 liter dan dimuat menggunakan di atas gerobak, kuda, kerbau atau dengan cara dipikul. Hulu Sungai Waikelo berada di Kecamatan Wewewa Barat, sekitar 40 kilometer dari Kodi. Sungai Waikelo membelah beberapa desa yang berada dekat desa Hamonggu Lele dan Homba Karipit. Air sungai ini terus mengalir ke lautan Indonesia dan tidak kering sepanjang tahun. Tetapi tidak dimanfaatkan oleh pemerintah dan warga setempat untuk mengairi lahan pertanian.   

Penduduk desa Hamonggo Lele berjumlah 2.232 orang dan desa Homba Karipit 2.666 orang. Pekerjaan utama penduduk dua desa ini adalah adalah bertani. Kedua desa ini dicapai lewat Waitabula, kota kecil di kecamatan Wewewa Timur, maka hanya sekitar 40 kilometer, sementara dari Waitabula ke Waikabubak sejauh 40 kilometer. Kondisi jalan raya aspal berlubang.

Sistem Pertanian


Setiap warga Hamonggu Lele dan Homba Karipit memiliki lahan kering berkisar antara 0,5 sampai 1,5 hektare. Di lahan tersebut ditanami pohon jambu mente sejak tahun 1980-an. Jambu Mente masuk ke kecamatan Kodi melalui proyek yang didanai oleh IFAD. Karena kondisi lahan yang sangat terbatas, maka di Kodi tidak dikenal sistim ladang berpindah. Sebaliknya, di ladang yang ditanami Jambu Mente --- di sela-sela pohon Jambu, ditanam Padi gogo, kacang panjang, kacang tanah, jagung, ubi kayu dan ubi jalar.

Pola penanamannya: Padi ditanam sekitar bulan Desember atau awal musim hujan, dibagian lain di lahan yang sama, ditanam ubi dan kacang-kacangan. Ada pula setelah padi dipanen sekitar bulan April dan ladang selesai dibersihkan, lokasi yang ada ditanami kembali dengan kacang-kacangan dan ubi-ubian. .

Sehingga, produksi pangan hanya terdiri dari: Padi, jagung, Ubi jalar, ubi kayu, kacang panjang dan kacang tanah. Selain itu terdapat juga Kelapa, Jambu Mente, Pisang, dan Pepaya.


Petani lebih banyak memanfaatkan produksi pertanian untuk dikonsumsi sendiri, tidak dijual. Biasanya, mereka hanya menjual Jambu Mente pada musim panen mulai bulan September sampai Desember seharga Rp3.500 per kilogram. Produk lain yang dijual adalah pisang Rp3.500 per tandan. Kedua hasil perkebunan ini dijual kepada pedagang perantara yang datang membeli langsung ke petani dari Waitabula.

Para pedagang perantara ini  mengumpulkan jambu dari petani dari berbagai desa di Kodi dan mengangkutnya dengan truk ke Waitabula. Selanjutnya,  diantarpulaukan ke daerah lain seperti Bima di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui pelabuhan kapal Ferry Waikelo.

Hasil penjualan dimanfaatkan untuk membeli beras seharga Rp 2.500 per kilogram (jika persediaan padi habis), selain digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan membayar biaya pendidikan anak-anak. Masyarakat Kodi dan Sumba umumnya memiliki ternak besar seperti Kerbau, Sapi dan Kuda. Ternak kecil antara lain kambing, babi, ayam. Ternak besar dijual antara Rp 300.000 – 600.000 per ekor. Selain digunakan untuk membayar mas kawin dalam disembelih dalam pesta.


Ketahanan Pangan


Berdasarkan pengamatan langsung dan hasil wawancara bersama penduduk desa Hamonggo Lele dan Homba Karipit, mereka belum pernah mengalami kekurangan bahan pangan. Meskipun tanaman pertanian di dua desa ini juga menjadi sasaran penyerangan hama belalang seperti desa-desa lain, namun masih berlangsung secara sporadis, dan serangan yang  terjadi pada musim panen 2004 ini, terjadi ketika hampir seluruh petani sudah selesai panen. Karena itu di tiap rumah penduduk masih dijumpai hasil panen berupa padi dan ubi-ubian.

Sementara tanaman perkebunan seperti Jambu Mente, mulai berbunga. Menurut Welem Wora Djenja, warga desa Hamonggo Lele, bila persediaan bahan makanan yang diperolehnya sudah habis, mereka bisa tertolong dengan hasil panen Jambu Mente. Selain menjual pisang atau ternak bila membutuhkan uang dalam jumlah besar.

Hal serupa juga terjadi di desa Homba Karipit. Menurut  Daniel Kaka tanaman pertanian memang masih cukup sampai musim tanam berikut karena ia berhasil panen sebelum belalang menyerang tanaman.

Meski demikian, mereka ternyata memiliki lahan yang sangat terbatas, baik Welem Wora Djenja maupun Daniel Kaka, masing-masing memiliki lahan pertanian hanya 1 hektare. Di lahan tersebut, seperti penduduk lainnya ditanam Jambu Mente sejak 1984. Tanaman pertanian lainnya ditanam di lahan yang sama.

Daniel Kaka memiliki tanam jambu mente seluas 1,5 hektare. Di lahan tersebut juga ditanami jagung, ubi-ubin adan padi ladang. Pada musim tanam (MT) 2004, tanaman tersebut diserang hama belalang sehingga hanya mengumpulkan 75 kilogram gabah kering, dan jagung 10 ikat. 1 terdiri dari 8 puler.

Bila tanaman tersebut tidak diserang hama dan curah hujan normal, hasil yang diperoleh dari luas lahan yang sama: Padi  1,5 ton dan jagung 50 ikat. 

Masalah yang Ditemukan


Masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Hamonggo Lele maupun Homba Karipit adalah:

1.     Serangan hama belalang terhadap secara sporadis terhadap tanaman pertanian.
2.     Curah hujan yang sangat minim, hanya sekitar 4-5 bulan
3.     Sebagian besar petani memiliki lahan sangat terbatas, hanya 0,5 hektare. Hanya sebagian kecil saja yang memiliki  lahan antara 1 sampai 2 hektare.
4.     Tidak ada sumber air untuk mengairi lahan pertanian dan untuk minum.
5.     Warga mengonsumsi air yang diambil dari sungai Waikelo. Padahal di sungai tersebut digunakan sebagai tempat mencuci pakaian dan minuman bagi ternak.
6.     Sejauh ini, beberapa warga pernah terserang penyakit gatal-gatal. Yang menurut kepala desa Homba Karipit diduga diakibatkan karena manusia dan ternak sama-sama mengonsumsi air dari satu sumber.
7.     Pengambilan air bukan saja dilakukan oleh perempuan tetapi juga dilakukan anak-anak.

Rekomendasi

Program bantuan yang dapat diberikan adalah:

1.     membangun kembali proyek perpipaan yang pernah dilakukan pemerintah agar ke seluruh desa agar mereka bisa menikmati air bersih, sehingga memisahkan antara air yang dikonsumsi manusia dan dikonsumsi hewan.
2.     Penanganan hama belalang harus melibatkan seluruh isntansi pemerintah dan masyarakat. Penanganan sendiri oleh dinas pertanian tanaman pangan dan horikultura tidak efektif. Alasannya belalang setelah selesai menyerang tanaman, kembali ke padang belantara yang seharusnya menjadi tanggung jawab dinas peternakan dan perkebunan.

Nara sumber:

1.     Camat Kodi, Ndara Tondo- telepon : 086812119155 (satelit)
2.     Kepala desa Homba Karipit, Yoakhim Holo
3.     Kepala Desa Hamonggo Lele, Gerson GH. Boro
4.     Welem Wora Djenja
5.     Daniel Kaka

 

 

Sumba Barat, 8-9 Juli 2004






Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT