(dokumen ini ada di arsip PMPB,tdk di tulis siapa yg melakukan investigasi,tetapi dokumen ini sebagai pembelajaran bagi semua pihak dalam melakukan penelitian/investigasi mengenai hama belalang di sumba barat)
Kabupaten : Sumba Barat
Kecamatan : Kodi
Desa : Hamonggu Lele dan Homba Karipit
Gambaran
Umum
Desa Hamonggu Lele dan Homba
Karipit di kecamatan Kodi adalah dua desa bertetangga yang berada sekitar 80 kilometer
dari Waikabubak, ibu kota Sumba Barat. Kedua desa ini tidak memiliki sumber air
baik untuk mengairi lahan persawahan maupun untuk minum. Karena itu, di desa
Hamonggu Lele dan Homba Karipit tidak terdapat lahan basah. Petani hanya
mengandalkan curah hujan yang berlangsung selama 4 sampi 5 bulan untuk menanami
lahan kering dengan berbagai tanaman pertanian seperti padi, kacang-kacangan,
ubi-ubian dan jagung.
Untuk memenuhi kebutuhan akan
air minum, warga berbondong-bondong
mengambil air ke sungai Waikelo menggunakan jerigen ukuran 5 liter dan
dimuat menggunakan di atas gerobak, kuda, kerbau atau dengan cara dipikul. Hulu
Sungai Waikelo berada di Kecamatan Wewewa Barat, sekitar 40 kilometer dari
Kodi. Sungai Waikelo membelah beberapa desa yang berada dekat desa Hamonggu
Lele dan Homba Karipit. Air sungai ini terus mengalir ke lautan Indonesia dan
tidak kering sepanjang tahun. Tetapi tidak dimanfaatkan oleh pemerintah dan
warga setempat untuk mengairi lahan pertanian.
Penduduk desa Hamonggo
Lele berjumlah 2.232 orang dan desa Homba Karipit 2.666 orang. Pekerjaan utama
penduduk dua desa ini adalah adalah bertani. Kedua desa ini dicapai lewat
Waitabula, kota kecil di kecamatan Wewewa Timur, maka hanya sekitar 40
kilometer, sementara dari Waitabula ke Waikabubak sejauh 40 kilometer. Kondisi
jalan raya aspal berlubang.
Sistem Pertanian
Setiap warga Hamonggu Lele dan
Homba Karipit memiliki lahan kering berkisar antara 0,5 sampai 1,5 hektare. Di
lahan tersebut ditanami pohon jambu mente sejak tahun 1980-an. Jambu Mente
masuk ke kecamatan Kodi melalui proyek yang didanai oleh IFAD. Karena kondisi
lahan yang sangat terbatas, maka di Kodi tidak dikenal sistim ladang berpindah.
Sebaliknya, di ladang yang ditanami Jambu Mente --- di sela-sela pohon Jambu, ditanam
Padi gogo, kacang panjang, kacang tanah, jagung, ubi kayu dan ubi jalar.
Pola penanamannya: Padi ditanam sekitar bulan Desember
atau awal musim hujan, dibagian lain di lahan yang sama, ditanam ubi dan
kacang-kacangan. Ada pula setelah padi dipanen sekitar bulan April dan ladang
selesai dibersihkan, lokasi yang ada ditanami kembali dengan kacang-kacangan
dan ubi-ubian. .
Sehingga, produksi pangan hanya terdiri
dari: Padi, jagung, Ubi jalar, ubi kayu, kacang panjang dan kacang tanah.
Selain itu terdapat juga Kelapa, Jambu Mente, Pisang, dan Pepaya.
Petani lebih banyak
memanfaatkan produksi pertanian untuk dikonsumsi sendiri, tidak dijual.
Biasanya, mereka hanya menjual Jambu Mente pada musim panen mulai bulan
September sampai Desember seharga Rp3.500 per kilogram. Produk lain yang dijual
adalah pisang Rp3.500 per tandan. Kedua hasil perkebunan ini dijual kepada
pedagang perantara yang datang membeli langsung ke petani dari Waitabula.
Para pedagang perantara
ini mengumpulkan jambu dari petani dari
berbagai desa di Kodi dan mengangkutnya dengan truk ke Waitabula.
Selanjutnya, diantarpulaukan ke daerah
lain seperti Bima di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui pelabuhan kapal
Ferry Waikelo.
Hasil penjualan dimanfaatkan untuk
membeli beras seharga Rp 2.500 per kilogram (jika persediaan padi habis),
selain digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan membayar biaya
pendidikan anak-anak. Masyarakat Kodi dan Sumba umumnya memiliki ternak besar
seperti Kerbau, Sapi dan Kuda. Ternak kecil antara lain kambing, babi, ayam.
Ternak besar dijual antara Rp 300.000 – 600.000 per ekor. Selain digunakan
untuk membayar mas kawin dalam disembelih dalam pesta.
Ketahanan
Pangan
Berdasarkan pengamatan langsung dan hasil wawancara bersama penduduk desa
Hamonggo Lele dan Homba Karipit, mereka belum pernah mengalami kekurangan bahan
pangan. Meskipun tanaman pertanian di dua desa ini juga menjadi sasaran
penyerangan hama belalang seperti desa-desa lain, namun masih berlangsung
secara sporadis, dan serangan yang terjadi
pada musim panen 2004 ini, terjadi ketika hampir seluruh petani sudah selesai
panen. Karena itu di tiap rumah penduduk masih dijumpai hasil panen berupa padi
dan ubi-ubian.
Sementara tanaman perkebunan seperti Jambu Mente, mulai berbunga. Menurut
Welem Wora Djenja, warga desa Hamonggo Lele, bila persediaan bahan makanan yang
diperolehnya sudah habis, mereka bisa tertolong dengan hasil panen Jambu Mente.
Selain menjual pisang atau ternak bila membutuhkan uang dalam jumlah besar.
Hal serupa juga terjadi
di desa Homba Karipit. Menurut Daniel
Kaka tanaman pertanian memang masih cukup sampai musim tanam berikut karena ia
berhasil panen sebelum belalang menyerang tanaman.
Meski demikian, mereka ternyata
memiliki lahan yang sangat terbatas, baik Welem Wora Djenja maupun Daniel Kaka,
masing-masing memiliki lahan pertanian hanya 1 hektare. Di lahan
tersebut, seperti penduduk lainnya ditanam Jambu Mente sejak 1984. Tanaman
pertanian lainnya ditanam di lahan yang sama.
Daniel Kaka memiliki tanam
jambu mente seluas 1,5 hektare. Di lahan tersebut juga ditanami jagung,
ubi-ubin adan padi ladang. Pada musim tanam (MT) 2004, tanaman tersebut
diserang hama belalang sehingga hanya mengumpulkan 75 kilogram gabah kering,
dan jagung 10 ikat. 1 terdiri dari 8 puler.
Bila tanaman tersebut tidak
diserang hama dan curah hujan normal, hasil yang diperoleh dari luas lahan yang
sama: Padi 1,5 ton dan jagung 50
ikat.
Masalah yang Ditemukan
Masalah-masalah yang dihadapi
masyarakat Hamonggo Lele maupun Homba Karipit adalah:
1.
Serangan hama belalang terhadap secara sporadis
terhadap tanaman pertanian.
2.
Curah hujan yang sangat minim, hanya sekitar 4-5
bulan
3.
Sebagian besar petani memiliki lahan sangat
terbatas, hanya 0,5 hektare. Hanya sebagian kecil saja yang memiliki lahan antara 1 sampai 2 hektare.
4.
Tidak ada sumber air untuk mengairi lahan
pertanian dan untuk minum.
5.
Warga mengonsumsi air yang diambil dari sungai
Waikelo. Padahal di sungai tersebut digunakan sebagai tempat mencuci pakaian
dan minuman bagi ternak.
6.
Sejauh ini, beberapa warga pernah terserang
penyakit gatal-gatal. Yang menurut kepala desa Homba Karipit diduga diakibatkan
karena manusia dan ternak sama-sama mengonsumsi air dari satu sumber.
7.
Pengambilan air bukan saja dilakukan oleh
perempuan tetapi juga dilakukan anak-anak.
Rekomendasi
Program bantuan yang dapat diberikan adalah:
1.
membangun kembali proyek perpipaan yang pernah
dilakukan pemerintah agar ke seluruh desa agar mereka bisa menikmati air
bersih, sehingga memisahkan antara air yang dikonsumsi manusia dan dikonsumsi
hewan.
2.
Penanganan hama belalang harus melibatkan seluruh
isntansi pemerintah dan masyarakat. Penanganan sendiri oleh dinas pertanian
tanaman pangan dan horikultura tidak efektif. Alasannya belalang setelah
selesai menyerang tanaman, kembali ke padang belantara yang seharusnya menjadi
tanggung jawab dinas peternakan dan perkebunan.
Nara
sumber:
1. Camat
Kodi, Ndara
Tondo- telepon : 086812119155 (satelit)
2. Kepala
desa Homba Karipit, Yoakhim Holo
3. Kepala
Desa Hamonggo Lele, Gerson GH. Boro
4. Welem
Wora Djenja
5. Daniel Kaka
Sumba Barat, 8-9 Juli 2004












Tidak ada komentar:
Posting Komentar