Yehuda Rato adalah seorang warga desa Oeniko,
kecamatan Amabi oefeto Timur. Usianya 35 tahun, sudah berkeluarga dengan 1
putra dan 3 orang putri. Sehari-hari bekerja sebagai seorang petani ladang. Di
desa Oeniko bapak Yehuda memiliki peran
sebagai tokoh Agama yang sering memimpin
ibadah di gereja dan tokoh masyarakat
yang disegani. Sebagai seorang tokoh agama dan masyarakat bapak Yehuda
sering terlibat dalam berbagai pertemuan dan diskusi di tingkat desa. Ketika
hadir dalam diskusi yang di pandu oleh Tim PMPB dalam diskusi tentang Pemantauan Pangan dan
Penghidupan yang dilakukan oleh Tim PMPB di desa Oeniko pada bulan Mei 2008, Bapak Yehuda berkisah tentang Upaya
Penanggulangan bencana banjir di Kali Sonkiko yang saban tahun terjadai banjir.
Demikian Kisahnya;
Di desa kami Oeniko ini, setiap tahun terjadi banjir. Tiga dusun yang lain
tidak tetapi hanya di dusun Sonkiko saja.
Kali Sonkiko ini dulu tidak selebar sekarang ini, tetapi karena banjir terus sehingga kali ini
menjadi lebar dan banjir bisa tempias masuk sampai di kampung sonkiko ini. Banjir yang lebih parah terjadi pada tahun 2004. Semua rumah penduduk di
dusun Sonkiko ini terendam banjir dan ada yang dibawah banjir. Harta Benda
rusak . waktu itu warga sosnkiko mengungsi di kantor desa.
Kejadian ini, oleh Kepala Desa di laporkan ke
Pemerintah Kabupaten Kupang. Alat berat di datangkan untuk membuka jalur air.
Namun usaha itu sia-sia karena banjir
tetap saja masuk kampung bahkan di tahun 2005.banjir disertai tanah
longsor. Ketika itu banjir datang pada jam 12 siang. Bersamaan dengan itu
puncak gunung Haekmarak dimana mejadi sumber mata air bagi warga di desa
tersebut patah dan puncaknya jatuh menutupi jalan air serta membentuk sebuah
bukit baru. Kejadian ini juga di
laporkan kepala Desa Ke Pihak Pemda kupang. Ketika itu juga hadir sebuah LSM
bernama PMPB. Bersama masyarakat PMPB
bekerja dengan menggunakan lat berat
membuat lurus jalur air selebar 260
meter, untuk menanggulangi banjir. Upaya
ini tidak bertahan lama, air tetap saja masuk kampung.
Tahun 2007, seorang bapak bernama Musa Rato. Dalam
tidurnya ia bermimpi di datangi oleh
Seorang Bapak yang tidak dikenalinya. Adapun pesan bapak tersebut demikian”
Besok kamu harus mengumpulkan semua tokoh adat/Kepala suku yang ada di desa ini
dan buat silsilah siapa kah orang pertama yang tinggal di desa ini. Setelah itu kamu berembuk
dan harus mencari tahu kesalahan apa yang telah kamu lakukan terhadap
alam ini sehingga kamu mengalami banjir setiap tahun bahkan harta benda serta
kuburan leluhurmu hancur. Jika telah kamu temuakan maka lakukan perintahku ini:
Orang pertama yang tinggal dikampung harus memotong bambu sepanjang 50 cm dan tancapkanlah disepanjang kali tempat banjir melimpas masuk , tetapi sebelum
itu kamu harus berdoa terdahulu di gereja sebagai tanda pertobatan atas segala
kesalahan yang telah kamu lakukan terhadap alam ini dengan ” DOA BAPAK KAMI”
Lalu bawalah seekor ayam jantan yang harus kamu potong di pingir kali sebelum
kamu menancapkan potongan bambu yang telah disiapkan dan Berdoalah Bapak Kami setiap kamu Menancap bambu
tersebut. Semua ini harus dilakukan Oleh
Kamu yang aku tunjuk yang aku datangi
saat ini dan didampingi oleh semua kepala Suku. Lakukan perintahku ini, kamu
akan bebas dari banjir.
Ceritra
mimpi ini sampailah ke telinga bapak Yehuda. Melalui sebuah perenungan dan
berbekal pengetahuan yang diperoleh dari diskusi tentang upaya pengurangan resiko bencana ( kearifan lokal/ upacara tradisional) yang dilakukan oleh PMPB sejak tahun 2005. Kemudian dikumpulkan semua tokoh
adat dan kepala suku sebagaimana pesan
mimpi itu. Upacara pun digelar. Alhasil sejak itu banjir tidak lagi merusak
perkampungan sonkiko termasuk harta benda. Dan masyarakat sonkiko saat ini bebas banijir. Mudah-mudahan selanjutnya tidak ada ceritra
banjir di Desa Oeniko Lagi.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar