BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Selasa, 09 April 2013

Mimpi : antara mitos dan kenyataan



      

Yehuda Rato adalah seorang warga desa Oeniko, kecamatan Amabi oefeto Timur. Usianya 35 tahun, sudah berkeluarga dengan 1 putra dan 3 orang putri. Sehari-hari bekerja sebagai seorang petani ladang. Di desa Oeniko bapak Yehuda memiliki  peran sebagai tokoh  Agama yang sering memimpin ibadah di gereja dan tokoh masyarakat  yang disegani. Sebagai seorang tokoh agama dan masyarakat bapak Yehuda sering terlibat dalam berbagai pertemuan dan diskusi  di tingkat desa.  Ketika  hadir dalam diskusi yang di pandu oleh Tim PMPB dalam  diskusi tentang Pemantauan Pangan dan Penghidupan  yang dilakukan  oleh Tim PMPB di desa Oeniko pada bulan  Mei 2008, Bapak Yehuda berkisah tentang Upaya Penanggulangan bencana banjir di Kali Sonkiko yang saban tahun terjadai banjir. Demikian Kisahnya;

 Di desa kami Oeniko ini, setiap tahun terjadi banjir. Tiga dusun yang lain tidak tetapi hanya di dusun Sonkiko saja.  Kali Sonkiko ini dulu tidak selebar sekarang ini, tetapi   karena banjir terus sehingga kali ini menjadi lebar dan banjir bisa tempias masuk sampai di kampung sonkiko ini. Banjir yang lebih parah terjadi pada tahun 2004. Semua rumah penduduk di dusun Sonkiko ini terendam banjir dan ada yang dibawah banjir.   Harta Benda  rusak . waktu itu warga sosnkiko mengungsi di kantor desa.


Kejadian ini, oleh Kepala Desa di laporkan ke Pemerintah Kabupaten Kupang. Alat berat di datangkan untuk membuka jalur air. Namun usaha itu sia-sia karena banjir  tetap saja masuk kampung bahkan di tahun 2005.banjir disertai tanah longsor. Ketika itu banjir datang pada jam 12 siang. Bersamaan dengan itu puncak gunung Haekmarak dimana mejadi sumber mata air bagi warga di desa tersebut patah dan puncaknya jatuh menutupi jalan air serta membentuk sebuah bukit baru. Kejadian  ini juga di laporkan kepala Desa Ke Pihak Pemda kupang. Ketika itu juga hadir sebuah LSM bernama PMPB. Bersama masyarakat  PMPB bekerja  dengan menggunakan lat berat membuat lurus jalur air  selebar 260 meter,  untuk menanggulangi banjir. Upaya ini tidak bertahan lama, air tetap saja masuk kampung.

Tahun 2007, seorang bapak bernama Musa Rato. Dalam tidurnya  ia bermimpi di datangi oleh Seorang Bapak yang tidak dikenalinya. Adapun pesan bapak tersebut demikian” Besok kamu harus mengumpulkan semua tokoh adat/Kepala suku yang ada di desa ini dan buat silsilah siapa kah orang pertama yang tinggal di desa ini.  Setelah itu kamu  berembuk  dan harus mencari tahu kesalahan apa yang telah kamu lakukan terhadap alam ini sehingga kamu mengalami banjir setiap tahun bahkan harta benda serta kuburan leluhurmu hancur. Jika telah kamu temuakan maka lakukan perintahku ini: Orang pertama yang tinggal dikampung harus memotong bambu sepanjang 50 cm  dan tancapkanlah disepanjang kali  tempat banjir melimpas masuk , tetapi sebelum itu kamu harus berdoa terdahulu di gereja sebagai tanda pertobatan atas segala kesalahan yang telah kamu lakukan terhadap alam ini dengan ” DOA BAPAK KAMI” Lalu bawalah seekor ayam jantan yang harus kamu potong di pingir kali sebelum kamu menancapkan potongan bambu yang telah disiapkan dan Berdoalah Bapak  Kami setiap kamu Menancap bambu tersebut.  Semua ini harus dilakukan Oleh Kamu yang aku tunjuk yang  aku datangi saat ini dan didampingi oleh semua kepala Suku. Lakukan perintahku ini, kamu akan bebas dari banjir.


 Ceritra mimpi ini sampailah ke telinga bapak Yehuda. Melalui sebuah perenungan dan berbekal pengetahuan yang diperoleh dari diskusi tentang upaya  pengurangan resiko bencana ( kearifan lokal/  upacara tradisional)  yang dilakukan  oleh PMPB sejak tahun 2005. Kemudian dikumpulkan  semua tokoh adat dan  kepala suku sebagaimana pesan mimpi itu. Upacara pun digelar. Alhasil  sejak itu banjir tidak lagi merusak perkampungan sonkiko termasuk harta benda. Dan masyarakat  sonkiko saat ini bebas banijir.  Mudah-mudahan selanjutnya tidak ada ceritra banjir di Desa Oeniko Lagi.







Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT