BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Jumat, 27 September 2013

sejarah Desa Oeniko





Catatan sejarah ini merupakan hasil diskusi PMPB dalam program pemantauan pangan dan penghidupan yang di lakukan tahun 2007. Dokumen ini dihasilkan  sebagai salah satu alat untuk melihat sumber penghidupan masyarakat   yang mendiami desa tersebut. Dokumen ini tidak bermaksud untuk mempertentangkan kelompok masyarakat yang mendiami wilayah tersebut, tetapi lebih melihat  pada  asset penghidupan masyarakat tersebut. Pertanyaan mendasarnya, kenapa orang tertarik untuk menghuni wilayah tersebut hingga saat ini? catatan ini mungkin jauh dari harapan karena berbagai faktor , sehingga perlu di perdalam lagi. mungkin ada berbagai  versi lain tentang ceritera desa ini.
==========================0000=========================
 Desa Oeniko adalah sebuah desa Pemekaran dari desa Oenuntono. Pada Tahun 1913 wilayah ini merupakan wilayah yang belum berpenghuni, yang menjadi tempat hidup  rusa dan babi hutan. Disamping itu juga merupakan daerah penghasil madu. Kemudian pada tahun 1915 datanglah  dua orang  bernama Finit dan Babis yang berasal dari Kuanfatu (TTS) tetapi tinggal di Noekele, untuk berburu dan mengambil  madu.  Kedua sahabat ini tinggal di wilayah Oeniko untuk berburu dalam kurun waktu berbulan-bulan dan ketika pulang ke tempat tinggal mereka di Noekele, dengan membawa  hasil buruan dan madu yang diambil dari hutan.  Suatu saat setelah mendapatkan hasil buruan dalam jumlah yang banyak, menjelang pagi kedua sahabat ini, Finit dan Babis sepakat untuk beristirahat makan sebelum kembali ke Tempat tinggal mereka di Noekele. Fajar mulai menyingsing ketika mereka sedang makan sadarlah mereka bahwa tidak ada persediaan  air minum. Disaat bersamaan muncullah seekor burung namanya Sonitu terbang kian kemari sambil menukik-nukik dibawah tanah. Salah seorang diantaranya segera menuju ketempat burung sonitu menukik. Dan melihat ada mata air yang muncul di Tempat burung Sonitu menukik.Setelah melepaskan dahaga dengan meminum  air tersebut,Keduanya sepakat memberi nama Tempat mata air muncul dan wilayah disekitarnya dengan sebutan Sonkiko yang berarti Burung itu menunjukkan air di pagi hari.Nama ini yang kemudian menjadi nama kampung Sonkiko

salah satu  wadah untuk mengambil air (bok oe) wadah ini berasal dari sejenis  pohon
yg buahnya seperti buah labu

            Setelah sekian lama berburu di daerah tersebut, keduanya melihat bahwa daerah itu pantas untuk dijadikan lahan pertanian. pada tahun 1917 keduanya sepakat untuk membuka kebun dan mulai tinggal menetap di Sunkiko. Finit yang kemudian menikah dan mempunyai keturunan 7 orang anak perempuan sedangkan Babis mempunyai 7 orang anak lelaki.  Anak perempuan Finit kemudian kawin dengan anak laki-laki dari Babis. Setelah itu datanglah suku-suku lainnya secara berturut-turut yaitu dari Suku Nesimnasi berasal dari Maskolen bernama Nepanesi, kemudian menyusul Suku  Baksuni. Suku-suku yang datang kemudian diterima dengan baik oleh suku Finit dan Babis sebagai sesama masyarakat.
            Dalam perkembanganya pada tahun 1935 ada pembentukan pemerintahan. Oleh kerena jumlah masyarakat semakin bertambah banyak yaitu  turunan dari Finit dan Babis serta suku-suku yang ada maka dibentuklah  satu Temukung (Temukung Finit)  di bawa kevektoran Noekele dan yang menjadi temukung pertama adalah Mikhael Finit ( yang dikenal dengan nama Mineteke) yang memerintah dari tahun 1940-1957.Pada Masa Temukung Mikhael Finit ada tiga temukung besar dibawa kevektoran Noekele yaitu Temukung Nama, Finit dan Ton, dengan pusat kerajaan di Mukiana –Noekele  dan rajanya  bernama Loemnanu. Batas wilayah kerajaan ini dibagian utara Fatuleu, bagian selatan Amarasi, Bagian Barat Tuapukan dan bagian Timur TTS.
Setelah Mikhael Finit Mangkat diganti oleh anak kandungnya bernama Siki Finit (lebih dikenal dengan nama Simson Finit) yang memerintah pada tahun 1957-1966. Simson Finit wafat diganti dengan Simson Babis dari turunan Babis yang memerintah dari tahun 1966 hingga memasuki era orde baru pada tahun 1967. Sejak tahun 1967 dimana masa itu terjadi perubahan sistem pemerintahan yang dikenal dengan pemerintahan gaya baru/ masa orde baru. Dengan demikian  Sebutan Temukung diganti dengan Pamong yang pada era Reformasi  setingkat dengan Jabatan Pamong masih dipundak Simson Babis.

            Pada tahun 1970  (masa Orde Baru) terjadi perluasan wilayah dan pemekaran desa, sehingga dari 3 temukung besar itu (Pamong) dilebur kembali menjadi beberapa desa. Oeniko masuk dalam wilayah administrasi desa Oenuntono dengan kepala Desa pertama, Bernabas Manggoa (1970-1997).pada masa pemerintahan desa Bernabas Manggoa, diadakan musayawarah  untuk  membuat persiapan desa baru sebagai desa pemekaran dari Oenuntono. Musyawarah demi musyawarah dilaksanakan dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh Adat, dari tiga kampung  (masuk Dusun III desa Oenuntono) yaitu Oepopon,Nisabaat dan Sonkiko. Musyawarah ini kemudian menghasilkan  kesepakatan tentang nama calon desa baru, yaitu Oesuni yang diambil dari nama ketiga kampung tersebut. Namun untuk mengingat jasa camat yang memperjuangkan  proses pemekaran, yaitu camat Nikodemus Rihi Heke (camat Am Abi Oefeto Timur) maka diberi nama Oeniko yang berasal dari nama tiga kampung dan nama camat dengan pejabat sementaranya bapak Cornelis Benu,  yang berperan mempersiapkan segala sesuatu  menuju sebuah desa yang definitif. Pada tahun 2000 tepatnya tanggal 30 september, Oeniko di sahkan menjadi sebuah desa yang definitif  kepala Desa pertama adalah Yohanis Babys, dan masih menjabat hingga saat ini.Secara Administratif  bagian utara desa Oeniko berbatasan dengan desa Oebola, kecamatan Fatuleu, Timur dengan desa Oenuntono, Barat dengan desa Kairane dan desa Raknamo sedangkan bagian Selatan berbatasan dengan Desa Pathau.


Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT