BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Senin, 10 Februari 2014

Julius Nakmofa :sobat inspiratif

di muat di majalah Readersdigest.co.id: 12/22/2013

Mengurangi Risiko Bencana
Ketika belum banyak orang membicarakan soal penanggulangan bencana di Nusa Tenggara Timur, Yulius Nakmofa sudah berkarya nyata.

“Ini dia, orang yang pertama kali berbicara soal penanggulangan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT),” ujar Roy Lay, anggota Tim Support Pengurangan Risiko Bencana Inklusif NTT, sambil menunjuk seorang pria. Orang yang ditunjuk hanya menyunggingkan senyum di balik kumisnya yang tebal. Dia adalah Yulius Nakmofa, 46, direktur Perkumpulan Masyarakat Penanggulangan Bencana (PMPB) NTT.

Tak heran bila nama Yulius sangat dikenal di komunitas penanganan dan penanggulangan bencana di NTT. Sejak 1998 Yulius sudah bicara lantang soal penanggulangan bencana di tingkat provinsi.

“Saat itu terjadi kekeringan di seluruh NTT. Kekeringan itu ternyata menimbulkan kerawanan pangan,” ujar Yulius. “Namun informasi mengenai rawan pangan itu simpang siur. Lembaga A bilang iya, lembaga B bilang tidak. Jadi, jangankan mengajarkan sadar bencana kepada warga desa, situasi yang ada saat itu juga belum mendukung.”
Itu sebabnya, bersama enam lembaga swadaya lokal di NTT yang ada saat itu, Yulius turut membidani pendirian Posko Info Rawan Pangan (PIRP). Tugas lembaga itu adalah menghimpun informasi, dan memberi rekomendasi.

Yulius lantas berkenalan dengan Mark Rosasko, warga negara AS yang tinggal di Jepang. Mark rupanya membaca artikel di sebuah majalah yang menceritakan soal kerawanan pangan di NTT, dan tergerak membantu.

Melalui PIRP, Mark memutuskan membantu dengan memberikan ayam kepada para korban. “Tujuannya sangat baik, yaitu selain ayam dapat digunakan untuk meningkatkan ekonomi – bila kelak diperjualbelikan, telur dan dagingnya juga bisa dimakan,” jelas Yulius.

Begitu ayam didapat, Yulius dan teman-temannya langsung membagikan ayam-ayam tersebut kepada keluarga yang menjadi korban rawan pangan di Desa Toineke, Kecamatan Amanuban Selatan – sekarang Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Satu minggu setelah pembagian, banjir bandang melanda kawasan tersebut. 500 ayam bantuan Mark serta kandang yang dibawa Yulus, habis tersapu banjir.

“Itu merupakan pembelajaran yang sangat pahit bahwa sebelum bantuan diberikan, kami seharusnya melakukan analisis risiko,” papar Yulius. “Kalau saat itu kami melakukan analisis, kami pasti tahu bahwa itu daerah banjir, dan kami bisa mencarikan alternatif yang lain.”

Sejak itu, mulailah karier Yulius berkembang, dari awalnya menangani soal rawan pangan ke penanganan bencana. Bencana yang ia tangani pun mulai beragam, tak terbatas kerawanan pangan saja.

Momentum balik soal penanggulangan bencana justru datang saat bencana gempa dan tsunami melanda Aceh. Kedahsyatan bencana di Aceh tersebut membuka mata banyak orang sehingga mulai mempercayai konsep penangulangan bencana yang selama ini didengung-dengungkan Yulius.

“Saat itu pemerintah mulai percaya kepada kami. Badan-badan pemerintah pun mulai mau bekerja sama dengan kami,” kata Yulius, yang juga aktif di Forum Kesiapan dan Penanganan Bencana. “Dan ketika UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana disahkan, di NTT juga dibuat peraturan daerah yang mengatur soal penyelenggaraan penanggulangan bencana.”

Penanggulangan bencana, menurut Yulius, melibatkan kegiatan analisis risiko dan perencanaan pengurangan risiko bencana. Di dalam perencanaan tersebut ada yang dinamakan simulasi. “Nah, sebelum simulasi, harus dibikin skenario yang terdiri dari plan A, B, C. Semakin mendekati kenyataan, semakin bagus pula skenario dan simulasi,” ungkap Yulius.

Walau demikian, masih banyak pihak yang tidak percaya bahwa bencana bisa dikurangi risikonya. Pasalnya, masih sangat banyak anggota masyarakat yang pasrah terhadap bencana karena menganggap itu merupakan hukuman dari Tuhan.

“Sikap pasrah itu yang harus dihilangkan,” tegas Yulius. “Dan untuk mengatasinya kami harus memperhatikan sejak awal.”

Yulius mencontohkan, sewaktu ingin membangun sekolah, coba perhatikan terlebih dahulu apakah daerah itu rawan longsor, banjir atau angin. Kalau iya, coba cari tempat lain atau menyesuaikan dengan kerawanan yang ada.

“Kalau daerah rawan banjir, bikin sekolah yang memiliki dek atau berbentuk rumah panggung. Sedangkan kalau rawan angin ribut, perhatikan jenis dan kualitas kayu serta tembok dan bahan bangunan lain yang akan dipasang,” ujar Yulius. “Jadi pihak sekolah, dalam hal ini guru, tidak cuma terima dari kontraktor. Apalagi kalau kontraktornya dari luar yang tidak tahu apa-apa soal kerawanan di daerah itu.”

 Tantangan di masa depan, menurut Yulius, semakin berat. Salah satunya karena saat ini telah terjadi perubahan musim luar biasa, yang mengakibatkan seharusnya musim kemarau, ternyata masih turun hujan, dan sebaliknya. Itu sebabnya Yulius mengimbau masyarakat mencari kembali kearifan lokal baru.

“Kami sudah pernah mengalami sebuah dusun di Kecamatan Kei habis dilanda bencana tanah longsor, dan pengalaman tragis itu mau dibawa ke dusun lain yang belum pernah mengalami, sebagai bahan pembelajaran,” tegas Yulius. “Dan kalau selama ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hanya aktif jika ada bencana, di masa depan diharapkan lebih proaktif, sekalipun tidak ada bencana.”

Suatu harapan yang tidak muluk-muluk, mengingat NTT memiliki 13 ancaman bencana, dan berada di peringkat keenam dalam daftar ancaman bencana yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (Antonon Purnomo)

Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT