BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Selasa, 02 September 2014

SEMAU...NERAKA DUNIA?

Selepas kontrak program Gerakan Membangun Desa (gerbades), kami kader ex Gerbades ditawari untuk  terus mendampingi masyarakat (kalau setuju) dalam program Inpres Desa Tertinggal (IDT). saya setuju untuk melanjutkan program "tinggal di desa lagi. 

Bagi saya, tinggal didesa sangat menyenangkan..banyak hal yangharus  kita pelajari,kita "dipaksa"  untuk mengetahui banyak hal,karena kehadiran kita didesa merupakan tempat bertanya bagi masyarakat dimana kita tinggal. mereka menganggap bahwa kehadiran kita didesa,tahu banyak informasi,tahu banyak hal. kondisi ini yang memacu kita untuk terus membaca dan bertanya.
Foto 1. bersama 2 orang teman  (berdiri) yang sedang mekukan KKN Undana
di Desa Akle (lupa nama mereka dan tahun )


Keuntungan lain yang saya peroleh ketika berada didesa, saya juga belajar banyak hal tentang kehidupan masyarakat desa. kehidupan sosial mereka, sumber daya alam mereka,sumber- sumber keuangan dan infrastruktur yang mereka miliki. walau banyak keterbatasan yang mereka miliki,tetapi banyak potensi dan kekuatan yang mereka miliki. mereka juga memiliki mimpi tentang masa depan keluarga mereka. 

Namun hal yang saya angkat dalam ceritera kali ini adalah,ketika saya harus dipindahkan dari kabupaten Belu (sekarang malaka) ke kabupaten Kupang untuk mendampingi program IDT di kabupaten Kupang. ketika melapor diri ke kantor pembangunan Desa kabupaten Kupang (sekarang kantor BPMPD), saya dan beberapa rekan  ditempatkan di Desa Akle,Kecamatan Semau (sekarang masuk kecamatan Semau Selatan).saya masih ingat,teman- teman saya yang ditempatkan di Semau. Yunus Poyk dan Ani Bisinglasi ditempatkan di Desa Uitiuana , sedangkan saya dan bety (lupa namanya) ditempatkan di Desa akle.


ada perasaan gugp juga ,ketika harus berangkat bertugas. karena kami yang tinggal di kota kupang,ketika menyebut pulau semau "identik" dengan ilmu Hitam.tapi saya mencoba menguatkan diri,karena bagi saya, "itu kata orang"  dan tidak bisa dibuktikan. dan kalaupun benar, tidak mungkin ada manusia yang menghuni pulau itu. dua alasan ini yang membuat saya tidak gentar untuk berangkat kepulau  kecil di teluk Kupang itu.

kami  berempat melapor diri untuk siap bertugas di kecamatan tersebut.kami menemui camat semau waktu itu, bapak Johanis Langkameng. beliau menerima kami dengan senang hati. tetapi dengan nada berseloroh, saya ingat betul kata- kata itu."...adik- adik selamat menjalankan tugas... tapi  Desa yang adik- adik tuju itu adalah Neraka dunia ...." .kami berempat ciut juga mendengar guyonan itu....
Foto 2.diatas perahu motor menuju desa dampingan bersama KKN Undana


Setelah kami melapor diri, kami sepakat kembali ke kupang. alasankembali ke Kupang karena jarak dari kantor camat ke Desa dampingan lebih kurang 40 Km dan harus berjalan kaki karena tidak ada kendaraan,baik kendaraan umum maupun jasa ojek, lewat Kupang lebih mudah karena kami bisa menggunakan perahu motor yang langsung ke desa dampingan.

Kami , berempat kebetulan desa dampingan berdekatan,jadi bisa saling komunikasi dan berdiskusi. dan bila setiap bulan mengikuti rapat koordinasi kami selalu bersama-sama jalan kaki ke kota kecamatan.

Semau yang dijuluki "Neraka dunia" ternyata tidak terbukti. buktinya kami bisa tinggal disana,makan dan minum bersama,berbagi suka dan duka selama 3 tahun menetap disana. indahnya kebersamaan di sana,terjalin hingga saat ini. saya tinggal di Kupang tetapi memiliki banyak saudara di pulau semau.

mengakhiri tulisan ini,saya mau katakan bahwa,jangan cepat menyerah bila mendengar "kata orang". 

salam terindah buat saudara-saudaraku di Desa Akle, kalian semua adalah sahabat-sahabat yang menghiasi perjalanan hidup saya.

Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT