( SEBUAH REFLEKSI DI HARI INTERNASIONAL PRB 2015)
Oleh ; JULIUS NAKMOFA
Selamat hari
Internasional Pengurangan Risiko bencana (PRB) bagi seluruh
masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) , terutama masyarakat NTT yang
tinggal di daerah rawan bencana. Ucapan selamat juga disampaikan kepada
pemerintah Nusa Tenggara Timur sebagai penanggungjawab utama dalam melindungi
masyarakat NTT dari bahaya bencana. Ucapan selamat yang sama juga disampaikan
kepada teman - teman pelaku Pengurangan Risiko bencana dan Juga Dunia Usaha
yang telah turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di
bumi Flobamora.
Tahun 2015, penduduk
dunia kembali memperingati Hari Internasional Pengurangan Risiko bencana (PRB)
tanggal 13 Oktober 2015. Hari Internasional PRB mulai dicanangkan tahun 1989 dengan
persetujuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Majelis Umum PBB
melihat hari Internasional PRB sebagai salah satu cara untuk mempromosikan
budaya global dalam mengurangi risiko bencana dimuka bumi
ini, termasuk pencegahan bencana, mitigasi dan kesiapsiagaan. Upaya yang
dicanangkan secara global ini dilakukan karena bumi hanya satu, kelangsungan
hidup manusia dibumi tergantng seberapa bijak manusia mengelola bumi ini.
Pengelolaan yang baik akan mengurangi kerentanan terhadap bencana , tetapi
sebaliknya pengelolaan yang keliru akan mendatangkan bahaya bencana bagi
kehidupan manusia.
Dalam paradigma baru untuk
penanggulangan bencana, disadari bahwa kompleksitas dari strategi penanganan
permasalahan bencana memerlukan suatu kerjasama dan dukungan semua pihak dalam
penanggulangannya terutama dalam upaya mengembangkan budaya pengurangan risiko
bencana, sehingga dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu.
Di Indonesia sendiri , Peringatan Pengurangan Risiko Bencana
telah menjadi agenda Nasional yang dilaksanakan setiap tahun. Kegiatan
peringatan mulai diperingati pertama kali di Indonesia tahun 2011 di
jogyakarta, kemudian peringatan yang sama tahun 2012 di kota Jogyakarta, tahun
2013 dilaksanakan di Mataram dan tahun
2014, lokasi perayaan dipusatkan di kota Bengkulu .
Tahun 2015,
pelaksanaan perayaan bulan PRB secara Nasional akan di laksanakan di kota solo, provinsi Jawa
Tengah. Kegiatan Peringatan Bulan
Pengurangan Risiko Bencana Nasional Tahun 2015 mengangkat tema Pengurangan Risiko Bencana Untuk Pembangunan
Berkelanjutan. Thema ini relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang rawan
bencana, sehingga pembangunan berkelanjutan merupakan jawaban dari sebuah prinsip untuk memenuhi kehidupan masyarakat saat ini tanpa
mengabaikan kebutuhan hidup generasi mendatang. Selain itu, thema perayaan
bulan PRB tahun ini menjawab semangat Nawacita dalam Rencana pembangunan Jangka
Menengah Nasional tahun 2015 – 2019 yaitu “menurunkan
indeks risiko bencana pada pusat-pusat pertumbuhan”,
Kalau demikian, Pertanyaan refleksi bagi kita
masyarakat NTT dan khususnya pemerintah dan masyarakat Kabupaten Kupang dan
Kabupaten Timor Tengah Selatan , Bagaimana menerjemahkan tema diatas dalam pelaksanaan program PRB di
dua kabupaten tersebut? Atau dengan kata laian, bagaimana menterjemahkan thema
diatas dengan program yang sedang dijalankan oleh masyarakat di Desa
Oeniko,Desa Leloboko Kabupaten Kupang dan Desa,Pene Utara , Desa Noenoni
di Kabupaten Timor Tengah Selatan
yang sedang melaksanakan program “membangun ketahanan masyarakat
terhadap bencana dan adaptasi perubahan
iklim” kerja sama PMPB-NTT dan Kedutaan Besar Jepang?
Dua kabupaten yang disebutkan diatas, merupakan daerah rawan bencana. Bencana yang
sering dialami pemerintah dan masyarakat
berupa banjir, angin kencang, kekeringan/rawan pangan,wabah penyakit
dan longsor. Untuk itu, Upaya mengurangi
risiko bencana merupakan sebuah keharusan, mengingat bencana tidak bisa di
hilangkan. Sehingga PRB merupakan upaya pendekatan praktis
sistimatis untuk mengidentifikasi, mengkaji dan
mengurangi risiko bencana , dengan tujuan mengurangi kerentanan sosial ekonomi
terhadap bencana dan menangani bahaya lingkungan
dan bahaya lain yang menyebabkan kerentanan.
Kalau demikian, upaya mengurangi
risiko bencana di NTT pada umumnya dan khususnya dua kabupaten
wiayah intervensi program , membutuhkan identifikasi dan kajian tentang daerah
bahaya, kerentanan, kapasitas dan risiko yang mungkin akan timbul serta melakukan perencanaan Pengurangan
risiko bencana. Kegiatan ini perlu dilakukan mulai dari tingkatan terkecil secara individu,rumah tangga , dusun, desa
bahkan sampai pada tingkat Kabupaten . Kajian dan perencanaan ini dibutuhkan dalam menjawab kebutuhan
intervensi setiap desa yang berbeda dari segi ancaman, kerentanan,kapasitas dan
risiko yang mungkin dihadapi,dengan melibatkan semua pihak dalam mengambil
peran dalam proses PRB secara sadar dan bertanggung jawab. Bila ini dilaksnakan,
akan menjadi tonggak baru dalam
mendukung pembangunan yang berkelanjutan di wilayah masing - masing.
Hal yang perlu diperhatikan Untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah masing – masing haruslah mencakup pertama,
tersedia payung hukum/hukum adat untuk melakukan
upaya PRB dengan memasukkan upaya PRB kedalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDES) sebagai arah kebijakan dalam
pelaksanaan program. kedua, perencanaan PRB harus mengakomodir
kebutuhan semua sector penghidupan di masyarakat. Dengan memasukkan issue PRB
kedalam perencanaan, maka pelaksanaan PRB akan menjadi semakin terarah dan
berkelanjutan. ketiga , Proses PRB secara berkelanjutan
membutuhkan kelembagaan yang kuat untuk memproses tahapan
pembangunan keempat , tersedia sumber
pembiayaan sesuai kebutuhan. Saat ini, Sumber pembiayaan untuk
mendukung PRB tingkat desa, bukan merupakan hambatan lagi,karena dengan
lahirnya UU Desa, desa diberi kewenangan untuk mengelola sumber pembiayaan yang
disalurkan langsung ke desa. Dana desa akan bermanfaat bila digunakan dalam
pembiayaan pemerintahan,pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan dalam
perspektif PRB. dan kelima
,dengan demikian pembangunan berkelanjutan akan tercapai dengan
terciptanya budaya PRB
dalam kehidupan masyarakat .
Selamat merayakan hari Pengurangan risiko
bencana tahun 2015. mari bersama melaksanakan pembangunan berkelanjutan
melalui bidang karya kita masing –
masing menuju kehidupan masyarakat NTT yang tanggap
dan tangguh menghadapi bencana . Semoga.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar