(hasil diskusi dengan masyarakat desa Oeniko,Kecamatan amabi Oefeto Timur 2007)
Desa Oeniko
adalah sebuah desa Pemekaran dari desa Oenuntono. Pada Tahun 1913 wilayah ini
merupakan wilayah yang belum berpenghuni, yang menjadi tempat hidup rusa dan babi hutan. Disamping itu juga
merupakan daerah penghasil madu. Kemudian pada tahun 1915 datanglah dua orang
bernama Finit dan Babis yang berasal dari Kuanfatu (TTS) tetapi tinggal
di Noekele, untuk berburu dan mengambil madu. Kedua sahabat ini tinggal di wilayah Oeniko
untuk berburu dalam kurun waktu berbulan-bulan dan ketika pulang ke tempat tinggal
mereka di Noekele, dengan membawa hasil
buruan dan madu yang diambil dari hutan.
Suatu saat setelah mendapatkan hasil buruan dalam jumlah yang banyak, menjelang
pagi kedua sahabat ini, Finit dan Babis sepakat untuk beristirahat makan
sebelum kembali ke Tempat tinggal mereka di Noekele. Fajar mulai menyingsing
ketika mereka sedang makan sadarlah mereka bahwa tidak ada persediaan air minum. Disaat bersamaan muncullah seekor
burung namanya Sonitu terbang kian kemari sambil menukik-nukik dibawah tanah.
Salah seorang diantaranya segera menuju ketempat burung sonitu menukik. Dan
melihat ada mata air yang muncul di Tempat burung Sonitu menukik.Setelah
melepaskan dahaga dari air tersebut,Keduanya sepakat memberi nama Tempat mata
air muncul dan wilayah disekitarnya dengan sebutan Sonkiko yang berarti Burung
itu menunjukkan air di pagi hari.Nama ini yang kemudian menjadi nama kampung
Sonkiko
Setelah sekian lamanya berburu di daerah
tersebut keduanya melihat bahwa daerah itu pantas untuk dijadikan lahan
pertanian. Maka pada tahun 1917 keduanya sepakat untuk membuka kebun dan mulai
tinggal menetap di Sunkiko. Finit yang kemudian menikah dan mempunyai keturunan
7 orang anak perempuan sedangkan Babis mempunyai 7 orang anak lelaki. Anak perempuan Finit kemudian kawin dengan
anak laki-laki dari Babis. Setelah itu datanglah suku-suku lainnya secara
berturut-turut yaitu dari Suku Nesimnasi berasal dari Maskolen bernama
Nepanesi, kemudian menyusul Suku
Baksuni. Suku-suku yang datang kemudian diterima dengan baik oleh suku
Finit dan Babis sebagai sesama masyarakat.
Dalam
perkembanganya pada tahun 1935 ada pembentukan pemerintahan. Oleh kerena jumlah
masyarakat semakin bertambah banyak yaitu
turunan dari Finit dan Babis serta suku-suku yang ada maka
dibentuklah satu Temukung (Temukung
Finit) di bawa kevektoran Noekele dan
yang menjadi temukung pertama adalah Mikhael Finit ( yang dikenal dengan nama
Mineteke) yang memerintah dari tahun 1940-1957.Pada Masa Temukung Mikhael Finit
ada tiga temukung besar dibawa kevektoran Noekele yaitu Temukung Nama, Finit
dan Ton, dengan pusat kerajaan di Mukiana –Noekele dan rajanya bernama Loemnanu. Batas wilayah kerajaan ini
dibagian utara Fatuleu, bagian selatan Amarasi, Bagian Barat Tuapukan dan
bagian Timur TTS.
Setelah
Mikhael Finit Mangkat diganti oleh anak kandungnya bernama Siki Finit (lebih
dikenal dengan nama Simson Finit) yang memerintah pada tahun 1957-1966. Simson
Finit wafat diganti dengan Simson Babis dari turunan Babis yang memerintah dari
tahun 1966 hingga memasuki era orde baru pada tahun 1967. Sejak tahun 1967
dimana masa itu terjadi perubahan sistem pemerintahan yang dikenal dengan
pemerintahan gaya baru/ masa orde baru. Dengan demikian Sebutan Temukung diganti dengan Pamong yang
pada era Reformasi setingkat dengan
Dusun.
Yang memikul jabatan Pamong masih
dipundak Simson Babis.
Pada
tahun 1970 (masa Orde Baru) terjadi
perluasan wilayah dan pemekaran desa, sehingga dari 3 temukung besar itu (Pamong)
dilebur kembali menjadi beberapa desa. Oeniko masuk dalam wilayah administrasi
desa Oenuntono dengan kepala Desa pertama, Bernabas Manggoa (1970-1997).pada
masa pemerintahan desa Bernabas Manggoa, diadakan musayawarah untuk
membuat persiapan desa baru sebagai desa pemekaran dari Oenuntono.
Musyawarah demi musyawarah dilaksanakan dengan melibatkan tokoh masyarakat dan
tokoh Adat, dari tiga kampung (masuk
Dusun III desa Oenuntono) yaitu Oepopon,Nisabaat dan Sonkiko. Musyawarah ini
kemudian menghasilkan kesepakatan tentang
nama calon desa baru, yaitu Oesuni
yang diambil dari nama ketiga kampung tersebut. Namun untuk mengingat jasa
camat yang memperjuangkan proses
pemekaran, yaitu camat Nikodemus Rihi
Heke (camat Am Abi Oefeto Timur) maka diberi nama Oeniko yang berasal dari
nama tiga kampung dan nama camat dengan pejabat sementaranya bapak Cornelis
Benu, yang berperan mempersiapkan segala
sesuatu menuju sebuah desa yang
definitif. Pada tahun 2000 tepatnya tanggal 30 september, Oeniko di sahkan
menjadi sebuah desa yang definitif kepala Desa pertama adalah Yohanis Babys, dan masih menjabat
hingga saat ini.Secara Administratif
bagian utara desa Oeniko berbatasan dengan desa Oebola, kecamatan
Fatuleu, Timur dengan desa Oenuntono, Barat dengan desa Kairane dan desa
Raknamo sedangkan bagian Selatan berbatasan dengan Desa Pathau.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar