BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Kamis, 02 Januari 2014

survey banjir dan longsor 2013



Kejadian banjir :
a.       Waktu Survey : 24 Desember 2013 jam 10.00 Wita
b.      Waktu Kejadian Banjir   : 22 Juli 2013
c.       Lokasi Kejadian :
-          Koordinat Geografis : 124’ 92’76’21” LS dan 9’ 64’84’94” BT
-          DAS Benenain
-          Lokasi Administrasi : Desa Fafoe Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka
d.      Curah Hujan Stasiun Besikama, kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka

Bln hujan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
CH (mm)
255
140
148
125
321
774
120
4
0
0
65
0

Lokasi banjir di Desa Fafoe Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka


e.       Penggunaan Lahan : pertanian lahan kering
f.       Jenis Tanah : Aluvial
g.      Jenis Batuan : Aluvium sungai – sungai muda
h.      Kemiringan Lereng : 0 – 8 %
i.        Analisa Penyebab Banjir
1.      Curah hujan yang tinggi yaitu 120 mm dan hari hujan selama 9 hari ketika bertemu dengan jenis tanah yang cepat jenuh meresap air dan daerah yang memiliki tingkat rerata yang cukup besar menyebabkan daerah ini mudah terserang banjir limpasan yang dapat terjadi selama beberapa hari.  
2.      Tanah aluvial adalah tanah hasil endapan karena tanah ini terbentuk dari endapan lumpur yang dibawa oleh banjir dari daerah hulu ke daerah – daerah hilir. Tanah Alluvial berwarna kelabu muda bersifat fisik keras dan pijal jika kering dan lekat jika basah. Karena lekat pada saat basah ini yang menyebabkan jenis tanah ini cepat jenuh menampung air hujan baik yang jatuh ke lokasi tersebut maupun yang dibawa sungai pada saat terjadi banjir. Air banjir yang meluap dari sungai dan masuk ke perkampungan menjadi lama surut karena tanah ini sudah jenuh menampung air yang ada akibat hujan dan juga banjir. Jenis tanah ini juga peka terhadap erosi karena permeabilitasnya cepat dan run off yang terjadi juga berlangsung dengan cepat.

3.       Tingkat kerapatan DAS sangat rendah dan indeks kemiringan rerata DAS yang cukup besar (0 – 8 %) menyebabkan peluang genangan air cukup tinggi dan peluang air meresap ke dalam tanah sangat rendah, sehingga air hujan yang jatuh dan banjir memerlukan waktu yang lama untuk surut dan mengakibatkan dampak yang besar bagi masyarakat.
4.      Kondisi penggunaan tutupan lahan berupa pertanian lahan kering mengakibatkan tidak adanya tanaman atau pepohonan yang bisa berfungsi untuk menyerap dan menampung air sehingga daerah ini mudah sekali tergenang air limpasan.
5.      Berdasarkan pemantauan di daerah bencana, desa Fafoe sering sekali mendapatkan banjir kiriman dari wilayah Kabupaten TTS dan Kabupaten TTU. DAS Benenain merupakan suatu ekosistem yang luas yang daerah ekosistem hulu dan tengahnya berada di dua kabupaten tersebut. Biasanya air yang meluap dari sungai benenain masuk melalui Desa Lasaen dan terus menyebar sampai ke Desa Fafoe.
6.      Tanggul penahan banjir yang dibangun oleh pihak Provinsi NTT, beberapa waktu yang lalu jebol di wilayah Desa Lasaen. Karena jebolnya tanggul tersebut, mengakibatkan aliran air mudah masuk kepermukiman warga melalui Desa Lasaen, terus ke Desa Fafoe.

j.        Kesimpulan
Penyebab banjir di lokasi survey bersifat kombinatif, antara lain faktor hujan, morfologi DAS dan kerusakan tanggul, dengan rincian sebagai berikut :
1.    Curah hujan yang tinggi sehingga tanah menjadi jenuh untuk menyerap air, sangat berpengaruh secara signifikan dalam terjadinya bencana banjir di Desa Fafoe
2.    Jenis tanah Aluvial yang merupakan jenis tanah yang cepat jenuh menampung air mendorong terjadinya bencana banjir di Desa Fafoe.
3.    Tutupan lahan yang rendah (gundul) dan pemanfaatan lahan disekitar lokasi kejadian sebagai tempat pemukiman dan pertanian lahan kering menjadikan air permukaan dan juga luapan dari sungai Benenain mudah masuk ke pemukiman dan merusak lahan pertanian.
4.    Kemiringan lereng yang berkisar antara 0 – 8 % sangat memudahkan air sungai yang meluap untuk menyebar ke seluruh wilayah desa Fafoe dan merusak aset penghidupan masyarakat dan fafilitas umum yang ada di Desa Fafoe.
5.    Kerusakan tanggul yang dibangun oleh pemerintah Provinsi NTT sangat berkontribusi terjadinya banjir di Desa Fafoe dan desa sekitarnya yang berada di kawasan yang sama.





















KEJADIAN TANAH LONGSOR :
a.       Waktu Survey : 25 Desember 2013 jam 10.00 Wita
b.      Waktu Kejadian Tanah Longsor : 19 Juli 2013
c.       Lokasi Kejadian :
-          Koordinat Geografis : 124’91’80’42” LS dan 9’42’13’21” BT
-          DAS : Benenain
-          Lokasi Administrasi : RT 01 RW 01 Dusun Felumasin Desa Wemida Kecamatan Malaka Timur Kabupaten Malaka
d.      Curah Hujan Stasiun Betun, Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka

Bln hujan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
CH (mm)
218
131
273
165
283
832
132
0
0
24
173
0

Titik lokasi tanah longsor sepanjang 40 meter ini terletak di Dusun Felumasin Desa Wemida Kecamatan Malaka Timur Kabupaten Malaka.

e.       Penggunaan Lahan : semak belukar
f.       Jenis Tanah : Kambisol
g.      Jenis Batuan : Lempung
h.      Kemiringan Lereng : 16 – 25 %

i.        Analisa Penyebab Tanah Longsor :
1.      Curah hujan yang tinggi yaitu 132 mm dan hari hujan selama 10 hari ketika bertemu dengan jenis tanah yang memiliki system drainase yang baik menyebabkan daerah ini mudah terserang tanah longsor. Hujan yang deras menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga longsor besar dapat terjadi.
2.      Jenis tanah di Desa Wemida adalah jenis tanah kambisol. Jenis tanah ini adalah tergolong jenis tanah mineral yang sedang berkembang. Bahan induk tanah ini bervariasi yaitu dari bahan endapan aluvium, koluvium, breksi, tufa, dasit, batu pasir, batu lempung dan batu granit. Sifat fisik tanah dicirikan dengan drainase baik sampai sedang dan permeabilitas sedang sampai cepat. Sehingga jenis tanah ini yang berada di perbukitan sangat mudah mengalami longsoran. Jumlah air di dalam batuan dan tanah mempengaruhi kestabilan lereng. Kuantitas air yang besar dapat meningkatkan kemungkinan kerentanan lereng. Penambahan berat sejalan dengan penambahan air di tanah jenis kambisol ini sudah cukup untuk menyebabkan longsor di Desa Wemida.
3.      Perkolasi air sepanjang material lereng membantu untuk mengurangi friksi antar butiran sehingga menunjukkan kehilangan kohesi. Pada kasus ini dengan lereng di Desa Wemida yang memiliki jenis batuan lempung ini, ketika kering akan cukup stabil, tetapi ketika basah maka dengan cepat akan kehilangan kohesivitas dan friksi internal sehingga menjadi sebab ketidakstabilan lereng yang menyebabkan terjadinya longsoran.
4.      Lapisan batu lempung yang ada di Desa Wemida dapat menjadi bidang gelincir ketika kondisinya basah. Walaupun batuan mempunyai kedudukan horizontal atau miring berlawanan dengan kelerengan, dapat saja rekahan memiliki arah yang sama dengan kelerengan. Air akan dapat bermigrasi melaluinya kemudian melapukkan dan memperbesar bukaan hingga beban berat dari lapisan diatasnya tidak sanggup lagi untuk ditahan dan terjadi longsor.
5.      Vegetasi berpengaruh terhadap kestabilan lereng. Air yang terserap dari turunnya hujan membuat vegetasi berperan dalam menjaga kejenuhan air pada material lereng yang jika hal sebaliknya terjadi maka akan kehilangan shear strength. Sistem akar tanaman juga menjaga kestabilan lereng dengan jalan mengikat partikel tanah bersama-sama dan mengikat tanah dengan batuan dasar. Rusaknya vegetasi karena aktivitas alam atau manusia menjadi penyebab longsor. perbukitan di Desa Wemida yang berupa semak belukar yang mempunyai akar dangkal tidak mampu menahan lereng ketika terjadi hujan lebat sehingga mengakibatkan terjadinya tanah longsor di desa tersebut.
6.      Sudut lereng dapat menjadi penyebab utama longsor. Umumnya, lereng yang curam akan kurang stabil karenanya lereng yang curam akan memiliki kemungkinan longsor dibanding lereng yang landai. Indeks kemiringan lereng Desa Wemida yang cukup curam (16 – 25 %) menjadi penyebab terjadinya longsoran.



j.        Kesimpulan
Penyebab terjadinya tanah longsor di lokasi survey bersifat kombinatif antara factor hujan, jenis tanah, jenis batuan dan kelerengan dengan rincian sebagai berikut :
1.      Curah hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya bencana tanah longsor di Desa Wemida.
2.      Kuantitas air yang besar ketika bertemu dengan jenis tanah kambisol ini menyebabkan terjadinya tanah longsor.
3.      Jenis batuan lempung di Desa Wemida ini yang mudah kehilangan kohesivitas pada saat basah dan friksi internal sehingga menjadi penyebab ketidakstabilan lereng yang menyebabkan terjadinya longsoran
4.      Lahan yang tidak digunakan secara baik sehingga hanya merupakan semak belukar yang tidak mampu mengikat tanah secara baik sehingga terjadi longsoran.
5.      Sudut lereng yang curam menyebabkan terjadinya longsoran.

Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT