Kejadian banjir :
a. Waktu
Survey : 24 Desember 2013 jam 10.00 Wita
b. Waktu
Kejadian Banjir : 22 Juli 2013
c. Lokasi
Kejadian :
-
Koordinat Geografis :
124’ 92’76’21” LS dan 9’ 64’84’94” BT
-
DAS Benenain
-
Lokasi Administrasi :
Desa Fafoe Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka
d. Curah
Hujan Stasiun Besikama, kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka
|
Bln hujan
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
|
CH (mm)
|
255
|
140
|
148
|
125
|
321
|
774
|
120
|
4
|
0
|
0
|
65
|
0
|
Lokasi
banjir di Desa Fafoe Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka
e. Penggunaan
Lahan : pertanian lahan kering
f. Jenis
Tanah : Aluvial
g. Jenis
Batuan : Aluvium sungai – sungai muda
h. Kemiringan
Lereng : 0 – 8 %
i.
Analisa
Penyebab Banjir
1. Curah
hujan yang tinggi yaitu 120 mm dan hari hujan selama 9 hari ketika bertemu
dengan jenis tanah yang cepat jenuh meresap air dan daerah yang memiliki
tingkat rerata yang cukup besar menyebabkan daerah ini mudah terserang banjir
limpasan yang dapat terjadi selama beberapa hari.
2. Tanah
aluvial adalah tanah hasil endapan karena tanah ini terbentuk dari endapan
lumpur yang dibawa oleh banjir dari daerah hulu ke daerah – daerah hilir. Tanah
Alluvial berwarna kelabu muda bersifat fisik keras dan pijal jika kering dan
lekat jika basah. Karena lekat pada saat basah ini yang menyebabkan jenis tanah
ini cepat jenuh menampung air hujan baik yang jatuh ke lokasi tersebut maupun
yang dibawa sungai pada saat terjadi banjir. Air banjir yang meluap dari sungai
dan masuk ke perkampungan menjadi lama surut karena tanah ini sudah jenuh
menampung air yang ada akibat hujan dan juga banjir. Jenis tanah ini juga peka
terhadap erosi karena permeabilitasnya cepat dan run off yang terjadi juga
berlangsung dengan cepat.
3. Tingkat kerapatan DAS sangat rendah dan indeks
kemiringan rerata DAS yang cukup besar (0 – 8 %) menyebabkan peluang genangan
air cukup tinggi dan peluang air meresap ke dalam tanah sangat rendah, sehingga
air hujan yang jatuh dan banjir memerlukan waktu yang lama untuk surut dan
mengakibatkan dampak yang besar bagi masyarakat.
4. Kondisi
penggunaan tutupan lahan berupa pertanian lahan kering mengakibatkan tidak
adanya tanaman atau pepohonan yang bisa berfungsi untuk menyerap dan menampung
air sehingga daerah ini mudah sekali tergenang air limpasan.
5. Berdasarkan pemantauan di
daerah bencana, desa Fafoe sering sekali
mendapatkan banjir kiriman dari wilayah Kabupaten TTS dan Kabupaten TTU. DAS
Benenain merupakan suatu ekosistem yang luas yang daerah ekosistem hulu dan
tengahnya berada di dua kabupaten tersebut. Biasanya air yang meluap dari
sungai benenain masuk melalui Desa Lasaen dan terus menyebar sampai ke Desa Fafoe.
6. Tanggul penahan banjir
yang dibangun oleh pihak Provinsi NTT, beberapa
waktu yang lalu jebol di wilayah Desa Lasaen. Karena jebolnya tanggul tersebut, mengakibatkan
aliran air mudah masuk kepermukiman warga melalui Desa Lasaen, terus ke Desa Fafoe.
j.
Kesimpulan
Penyebab
banjir di lokasi survey bersifat kombinatif, antara lain faktor hujan,
morfologi DAS dan kerusakan tanggul, dengan rincian sebagai berikut :
1. Curah hujan yang tinggi sehingga tanah menjadi
jenuh untuk menyerap air, sangat berpengaruh secara signifikan dalam terjadinya
bencana banjir di Desa Fafoe
2. Jenis tanah Aluvial yang merupakan
jenis tanah yang cepat jenuh menampung air mendorong terjadinya bencana banjir di Desa Fafoe.
3. Tutupan lahan yang rendah (gundul) dan pemanfaatan
lahan disekitar lokasi kejadian sebagai tempat pemukiman dan pertanian lahan
kering menjadikan air permukaan dan juga luapan dari sungai
Benenain mudah masuk ke pemukiman dan merusak lahan pertanian.
4. Kemiringan lereng yang
berkisar antara 0 – 8 % sangat memudahkan air sungai yang meluap untuk menyebar
ke seluruh wilayah desa Fafoe dan merusak aset
penghidupan masyarakat dan fafilitas
umum yang ada di Desa Fafoe.
5. Kerusakan tanggul yang dibangun oleh pemerintah Provinsi NTT sangat berkontribusi terjadinya banjir di Desa Fafoe dan desa sekitarnya yang
berada di kawasan yang sama.
KEJADIAN TANAH LONGSOR :
a. Waktu
Survey : 25 Desember 2013 jam 10.00 Wita
b. Waktu
Kejadian Tanah Longsor : 19 Juli 2013
c. Lokasi
Kejadian :
-
Koordinat Geografis :
124’91’80’42” LS dan 9’42’13’21” BT
-
DAS : Benenain
-
Lokasi Administrasi : RT
01 RW 01 Dusun Felumasin Desa Wemida Kecamatan Malaka Timur Kabupaten Malaka
d. Curah
Hujan Stasiun Betun, Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka
|
Bln hujan
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
|
CH (mm)
|
218
|
131
|
273
|
165
|
283
|
832
|
132
|
0
|
0
|
24
|
173
|
0
|
Titik
lokasi tanah longsor sepanjang 40 meter ini terletak di Dusun Felumasin Desa
Wemida Kecamatan Malaka Timur Kabupaten Malaka.
e. Penggunaan
Lahan : semak belukar
f. Jenis
Tanah : Kambisol
g. Jenis
Batuan : Lempung
h. Kemiringan
Lereng : 16 – 25 %
i.
Analisa
Penyebab Tanah Longsor :
1. Curah
hujan yang tinggi yaitu 132 mm dan hari hujan selama 10 hari ketika bertemu
dengan jenis tanah yang memiliki system drainase yang baik menyebabkan daerah
ini mudah terserang tanah longsor. Hujan yang deras menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga longsor besar
dapat terjadi.
2. Jenis
tanah di Desa Wemida adalah jenis tanah kambisol. Jenis tanah ini adalah
tergolong jenis tanah mineral yang sedang berkembang. Bahan induk tanah ini
bervariasi yaitu dari bahan endapan aluvium, koluvium, breksi, tufa, dasit,
batu pasir, batu lempung dan batu granit. Sifat fisik tanah dicirikan dengan
drainase baik sampai sedang dan permeabilitas sedang sampai cepat. Sehingga
jenis tanah ini yang berada di perbukitan sangat mudah mengalami longsoran. Jumlah air di dalam batuan dan tanah mempengaruhi kestabilan
lereng. Kuantitas air yang besar dapat meningkatkan kemungkinan kerentanan
lereng. Penambahan berat sejalan dengan penambahan air di tanah jenis kambisol
ini sudah cukup untuk menyebabkan longsor di Desa Wemida.
3. Perkolasi air sepanjang
material lereng membantu untuk mengurangi friksi antar butiran sehingga
menunjukkan kehilangan kohesi. Pada kasus ini dengan lereng di Desa
Wemida yang memiliki jenis batuan lempung ini, ketika kering akan cukup stabil,
tetapi ketika basah maka dengan cepat akan kehilangan kohesivitas dan friksi
internal sehingga menjadi sebab ketidakstabilan lereng yang menyebabkan
terjadinya longsoran.
4. Lapisan batu lempung yang ada di
Desa Wemida dapat menjadi bidang gelincir ketika kondisinya basah. Walaupun
batuan mempunyai kedudukan horizontal atau miring berlawanan dengan kelerengan,
dapat saja rekahan memiliki arah yang sama dengan kelerengan. Air akan dapat
bermigrasi melaluinya kemudian melapukkan dan memperbesar bukaan hingga beban
berat dari lapisan diatasnya tidak sanggup lagi untuk ditahan dan terjadi
longsor.
5. Vegetasi berpengaruh terhadap
kestabilan lereng. Air yang terserap dari turunnya hujan membuat vegetasi
berperan dalam menjaga kejenuhan air pada material lereng yang jika hal
sebaliknya terjadi maka akan kehilangan shear strength. Sistem akar
tanaman juga menjaga kestabilan lereng dengan jalan mengikat partikel tanah
bersama-sama dan mengikat tanah dengan batuan dasar. Rusaknya vegetasi karena
aktivitas alam atau manusia menjadi penyebab longsor. perbukitan di Desa Wemida
yang berupa semak belukar yang mempunyai akar dangkal tidak mampu menahan
lereng ketika terjadi hujan lebat sehingga mengakibatkan terjadinya tanah
longsor di desa tersebut.
6. Sudut lereng dapat menjadi penyebab
utama longsor. Umumnya, lereng yang curam akan kurang stabil karenanya lereng
yang curam akan memiliki kemungkinan longsor dibanding lereng yang landai.
Indeks kemiringan lereng Desa Wemida yang cukup curam (16 – 25 %) menjadi
penyebab terjadinya longsoran.
j.
Kesimpulan
Penyebab terjadinya tanah longsor
di lokasi survey bersifat kombinatif antara factor hujan, jenis tanah, jenis
batuan dan kelerengan dengan rincian sebagai berikut :
1. Curah
hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya bencana tanah longsor di Desa Wemida.
2. Kuantitas
air yang besar ketika bertemu dengan jenis tanah kambisol ini menyebabkan
terjadinya tanah longsor.
3. Jenis batuan lempung di Desa Wemida ini yang mudah kehilangan kohesivitas pada
saat basah dan friksi internal sehingga menjadi penyebab ketidakstabilan lereng
yang menyebabkan terjadinya longsoran
4. Lahan
yang tidak digunakan secara baik sehingga hanya merupakan semak belukar yang
tidak mampu mengikat tanah secara baik sehingga terjadi longsoran.
5. Sudut
lereng yang curam menyebabkan terjadinya longsoran.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar