BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Kamis, 26 Maret 2015

MARAPU DALAM BENCANA


MARAPU DALAM BENCANA ALAM, mencoba menemukan pemaknaan dan respon masyarakat Wunga Sumba Timur
(PENANGGULANGAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT DESA WUNGA ?)

I. Pengantar
Ancaman Bencana seakan sudah akrab ditelinga kita masyarakat  NTT. Jenis ancaman bencana yang sering menimpa masyarakat kita  berupa banjir, longsor ,gempa bumi, tsunami,angin puting beliung,hama tanaman,penyakit pada manusia ,letusan gunung api , dan berbagai jenis  bencana lainnnya selalu  mengganggu kehidupan masyarakat NTT. Dampak yang timbul setiap kali terjadi bencana dapat  berupa kehilangan nyawa, cacat , kehilangan  harta benda , kerusakan lingkungan  dan gangguan psikologi.
Cara pandang masyarakat  dan pemerintah dalam melihat kejadian bencana juga beragam,sehingga dalam merespon bencana juga sangat beragam. Ada yang memandang bencana sebagai sebuah kejadian yang harus terjadi,sehingga dalam merespon kejadian bencana dilakukan hanya pada saat kejadian, pasrah menghadapi kejadian. Ada pula yang melihat bencana sebagai sebuah kutukan sehingga merespon dengan penyesalan  dan meminta pengampungan dari  pemilik  kehidupan.
Di Nusa Tenggara  Timur , penanggulangan  bencana bukan sebuah hal baru  bagi masyarakat kita. Mereka sudah melakukan upaya penanggulangan bencana   sejak nenek moyang sesuai keyakinan  dan pengalaman respon  melalui  penanda  dilingkungan dimana mereka tinggal. Penanda akan terjadi sebuah musibah dan respon yang diberikan masyarakat berdasarkan  letak bintang, posisi awan,binatang piaraan maupun binatang liar, tumbuh- tubuhan ,melalui mimpi dan sebagainya.
Model penanggulangan bencana (kapasitas lokal)  yang hidup ditengah – tengah sebuah masyarakat   inilah,  yang coba diangkat oleh Jimmy Marcos Immanuel,  penulis buku “ MARAPU DALAM BENCANA  ALAM,  MENCOBA MENEMUKAN PEMAKNAAN DAN RESPON MASYARAKAT DESA WUNGA  SUMBA TIMUR”,


II. Marapu  dalam bencana alam (Penanggulangan bencana berbasis masyarakat wunga)

Isi tulisan dalam buku ini  sangat baik menguraikan  hubungan antara kepercayaan  - lingkungan dan bencana . penulis dengan gagah berani menelusuri secara detail  untuk menemukan makna dan respon masyarakat  dalam kehidupan mereka .

Berbasiskan pada kekuatan intelektualnya, berbekal keluasan pengetahuan dan bertumpu pada anailis yang tajam,  penulis  melukiskan kehidupan masyarakat wunga yang hidup bersama  ancaman bencana alam dan respon yang dilakukan  terhadap kejadian bencana dengan kepercayaan diri yang tinggi  (kapasitas lokal) .  atau dengan kata lain penulis mau menunjukkan kepada pembaca  bahwa  sebenarnya penulis  telah menemukan bagian – bagian dari kehidupan masyarakat Desa Wunga   dalam  “menanggulangi  bencana berbasis masyarakat” dengan cara pandang penulis sendiri .

Setidaknya ada  7 komponen yang coba diuraikan secara detail oleh penulis dalam  isi buku ini :
1. Masyarakat desa wunga telah memiliki “ konsep  perencanaan “ penanggulangan bencana yang jelas  terkait kepercayaan mereka  yaitu mampu mengantisipasi dan meminimalisir dampak yang merusak (ancaman bencana) dengan cara melakukan adaptasi  dan  mampu mengelola hubungan  antara kepercayaan ,alam dan bencana
2. Ada aturan – aturan  (kepercayaan) tidak tertulis yang dipahami dan dipatuhi  dalam  mengelola keseimbangan alam -  manusia – bencana
3. Masyarakat desa wunga telah memiliki kemampuan respon ketika berhadapan dengan bencana , sesuai tingkat kecemasan
4. Dari sisi kelembagaan , ada  struktur masyarakat dengan pembagian tugas yang jelas :    wunang/pemimpin ritual dan masyarakat yang tunduk untuk melaksanakan  keputusan  marapu
5. Dukungan dana untuk ritual dan respon terhadap kerusakan  bencana berasal dari masyarakat sendiri .
6. Menemukan  peringatan bahaya melalui hati hewan kurban dan usus ayam yang terus dilestarikan
7. Melakukan upaya mitigasi untuk menjaga keseimbangan lingkungan
Kendati konteks buku Jimmy Marcos Immanuel ini  Desa Wunga, tetapi ketika membaca buku ini, mencermati setiap data yang dipaparkannya, menyelami kedalaman argumentasinya, kita seakan dibawa ke desa Wunga  untuk merasakan geliat kehidupan mereka ,penderitaan mereka dan  kemudian penulis melempar kita  kembali, terkapar dan tersadar, tentang masih banyak masyarakat kita berjuang dengan kemampuan sendiri (kearifan lokal) untuk menanggulangi bencana, dengan terus beradaptasi dengan lingkungan   agar tidak mati sia-sia.
III. Catatan  tambahan
 Bercermin dari  buku Marapu dalam bencana alam, pemaknaan dan respon  masyarakat  Wunga Sumba Timur , kita belajar tentang  hubungan timbal balik antara  Lingkungan – manusia  -  bencana.   Untuk memperkaya hubungan timbal balik ini, maka beberapa catatan tambahan :
1. Kenyataan menunjukkan bahwa , Bencana semakin hari semakin bertambah baik keseringan,luas wilayah terdampak dan dampak kerugian yang ditimbulkan , sehingga dalam merespon kejadian bencana dengan  mengandalkan “kapasitas lokal”, berarti kita menggampangkan risiko bencana bagi masyarakat wunga
2. Isi buku ini  akan sangat menarik bila ditambah dengan dokumen foto – foto berwarna
3. Belum terlihat  pembahasan secara detail bagaimana  upaya  masyarakat Wunga membangun kerjasama dengan masyarakat  luar Wunga dalam merespon bencana , karena bencana tidak mengenal batas administrasi
4. Bila buku ini diperkaya dengan  peta bahaya,  akan terlihat  jelas lokasi  - lokasi mana saja yang sering dilanda kekeringan, kebakaran,hama belalang,angin puting beliung
5. Masyarakat Wunga sangat berisiko kedepan , sehingga rekomendasi berupa perencanaan penangulangan bencana  berbasis masyarakat perlu dibuat dengan  mengintegrasikan pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan yang berkembang


IV. Penutup
Buku ini layak dibaca oleh kita semua,   tanpa kecuali, terutama yang peduli pada nasib  bumi dan kehidupan manusia, yang mencari jawaban atas bencana  yang terus menimpa kehidupan masyarakat kita. Kita akan sangat mengerti , mengapa perlu penanggulangan bencana berbasis masyarakat? Karena masyarakatlah yang pertama merasakan langsung dampak dari bencana diwilayahnya. Jangan biarkan seorang anak manusiapun mati sia – sia karena bencana,karena bila itu terjadi maka dimana tanggung jawab  pemerintah dalam melindungi masyarakat dari dampak bencana ?.
==========================================================
Judul buku : Marapu dalam Bencana alam,Pemaknaan dan respons Masyarakat Wunga Sumba Timur
Penulis : Jimmy Marcos Immanuel
Penerbit :  CRCS
Penyunting bahasa : Muhammad Endy Saputro
Tebal : Xii + 2003 hlm

Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT