BENCANA DISEKITAR KITA

MARI KURANGI RISIKO BENCANA SEKARANG JUGA

Jumat, 01 April 2016

LEBIH DEKAT DENGAN DIREKTUR PMPB - NTT




Program   membangun kebertahanan masyarakat dalam  pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan  Iklim  adalah sebuah program yang dilaksanakan oleh PMPB – NTT  dengan dukungan dana dari  kedutaan besar jepang di Indonesia.  Tentu mengelola sebuah program membutuhkan ketrampilan tersendiri dari seorang  pemimpin  dalam mengelola program tersebut.

Untuk mengetahui  sejauh mana pengelolaan program tersebut, tantangan dan keberhasilan yang dicapai , maka Rantai Info (RI) berkesempatan mewawancarai direktur PMPB – NTT, Julius Nakmofa (JN) .

RI         : selamat siang Pak, apa khabar ?

JN       : Mat siang juga, kabar baik.

RI         : bisa di ceriterakan  sedikit tentang program  membangun  kebertahanan masyarakat untuk  Pengurangan Risiko Bencana  dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB/API)

JN: program ini merupakan kerjasama PMPB dan Kedutaan besar jepang. Tujuan dari program ini, pertama,membangun budaya aman masyarakat termasuk anak-anak terhadap bencana. Kedua,mendorong peran aktif masyarakat dan sekolah dalam penanggulangan bencana dan ketiga,terciptanya budaya masyarakat dan sekolah yang siaga terhadap setiap kejadian bencana 

Julius Nakmofa,Direktur PMPB - NTT

RI : program ini lokasinya dimana saja, di wilayah NTT

JN : lokasi pelaksanaan program in di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kabupaten Kupang, Desa Oeniko , SD Inpres Sonkiko dan Desa Leloboko, SD GMIT Leloboko.

RI : berapa staf yang terlibat  dalam program ini 

JN : staf yang dilibatkan dalam program ini sebanyak  5 orang. Pendamping lapangan 4 orang dan seorang bendahara. Setiap desa didampingi oleh satu orang , yang bertugas mendampingi masyarakat dan sekolah .

RI : kegiatan apa saja yang sudah dilakukan 

JN : kegiatan – kegiatan yang sudah dilakukan oleh Tim PMPB  di tingkat desa dan sekolah, meliputi  kegiatan sosialisasi awal program, pengumpulan informasi , kajian risiko, pembuatan peta risiko bencana, penyusunan rencana kontijensi, simulasi bersama,pemutaran film dan memperkuat kreatifitas anak terhadap PRB dan API. Selain itu, kmi juga memberikan bantuan fisik berupa  peralatan tanggap darurat seperti Tenda, Tandu,Bidai,Senter,sepatu hujan,Radio,generator ,kotak P3K DLL. Selain itu kami juga memberikan bantuan bagi kegiatan perlindungan mata air di Desa Oeniko dan Desa Noenoni.

Julius Nakmofa ,Direktur PMPB - NTT (kiri) bersama Kabid 1 BPBD Kabupaten Kupang (kanan) dalam kegiatan workshop akhir program

 RI : Kendala yang dihadapi 

JN : tentu dalam pelaksanaan sebuah kegiatan tidak akan berjalan mulus, tetapi hal ini tidak menyurutkan niat untuk terus berusaha. PMPB menyadari bahwa pelaksaan program satu tahun belum lah cukup untuk  membangun pemahaman masyarakat,ketrampilan dan juga pengalaman. Selain itu untuk merubah cara pandang masyarakat terhadap penanggulangan bencana dari  bantuan darurat  menuju ke tahap kesiapsiagaan membutuhkan proses. Orang lebih melihat bencana pada saat kejadian. Bencan atidak dilihat sebagai  bagain dari proses pembangunan.

RI         : Selain kendala, adakah kesuksesaan yang diraih oelh PMPB dalam program ini 

JN       : saya kita untuk mengukur kesuksesan banyak indikator yang harus dilihat. Atau dengan kata lain sukses menurut siapa? Tentu dari kacamata PMPB ,  dari sisi kegiatan, kami sudah melaksanakan semua kegiatan yang direncanakan. Tentu masyarakat juga memiliki kisah sukses tersendiri dari program yang sudah kami laksanakan. Saya kira kita juga perlu mengapresiasi sekecil apapun keberhasilan yang sudah diraih oleh masyarakat. Conroh sederhana, bagi kami memasukkan upaya penanggulangan bencana dalam rencana  kerja tahunan desa merupakan sebuah keberhasilan , tetapi apakah   orang luar  melihat itu sebagai sebuah keberhasilan. Yang terpenting bagai kami adalah keberlanjutan program 

RI :  Bagaimaa keberlanjutan program ini

JN : Bantuan pihak lain selalu dibatasi oleh waktu. Sehingga dari awal program perlu dipikirkan keberlanjutan program ini. PMPB memiliki strategi tersendiri untuk menjaga keberlanjutan program ini. Salah satu yang dilakukan adalah memasukkan rencana aksi masyarakat untuk PRB dan API kedalam rencana pembangunan desa dan sekolah sehingga ada pembiayaan dari desa dan sekolah. Selain itu, desa – desa juga sudah menghasilkan peraturan desa tentang penanggulangan bencana.  Dengan adanya dukungan payung hukum di desa ,diharapkan akan memperlancar proses keberlanjutan program di desa dan sekolah.


RI         :  mengakhiri wwancara ini, kami ingin komentara penutup dari bapak.

JN       : ha...ha... saya ingin menutup wawancara ini dengan sebuah kalimat, bencana terjadi karena bencana sebelumnya terlupakan. Kalau kita tidak belajar dari pengalaman bencana kali lalu dan memperbaikinya, maka risiko akan semakin besar kita hadapi. Mulailah dengan mengelola risiko bencana dari diri kita sendiri.

RI         : Terima kasih pak, atas waktunya.

Tidak ada komentar:

Aktifitas PMPB NTT