Program membangun kebertahanan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana dan adaptasi
perubahan Iklim adalah sebuah program yang dilaksanakan oleh
PMPB – NTT dengan dukungan dana
dari kedutaan besar jepang di
Indonesia. Tentu mengelola sebuah
program membutuhkan ketrampilan tersendiri dari seorang pemimpin
dalam mengelola program tersebut.
Untuk mengetahui sejauh mana pengelolaan program tersebut,
tantangan dan keberhasilan yang dicapai , maka Rantai Info (RI)
berkesempatan mewawancarai direktur PMPB – NTT, Julius Nakmofa (JN) .
RI : selamat siang Pak, apa khabar ?
JN
: Mat siang juga, kabar baik.
RI
: bisa di ceriterakan sedikit tentang program membangun
kebertahanan masyarakat untuk Pengurangan
Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim
(PRB/API)
JN:
program ini merupakan kerjasama PMPB dan Kedutaan besar jepang. Tujuan dari
program ini, pertama,membangun budaya aman masyarakat termasuk anak-anak
terhadap bencana. Kedua,mendorong peran aktif masyarakat dan sekolah dalam
penanggulangan bencana dan ketiga,terciptanya budaya masyarakat dan sekolah
yang siaga terhadap setiap kejadian bencana
Julius
Nakmofa,Direktur PMPB - NTT
RI
: program ini lokasinya dimana saja, di wilayah NTT
JN
: lokasi pelaksanaan program in di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah
Selatan. Kabupaten Kupang, Desa Oeniko , SD Inpres Sonkiko dan Desa Leloboko,
SD GMIT Leloboko.
RI
: berapa staf yang terlibat dalam
program ini
JN
: staf yang dilibatkan dalam program ini sebanyak 5 orang. Pendamping lapangan 4 orang dan
seorang bendahara. Setiap desa didampingi oleh satu orang , yang bertugas
mendampingi masyarakat dan sekolah .
RI
: kegiatan apa saja yang sudah dilakukan
JN
: kegiatan – kegiatan yang sudah dilakukan oleh Tim PMPB di tingkat desa dan sekolah, meliputi kegiatan sosialisasi awal program,
pengumpulan informasi , kajian risiko, pembuatan peta risiko bencana,
penyusunan rencana kontijensi, simulasi bersama,pemutaran film dan memperkuat
kreatifitas anak terhadap PRB dan API. Selain itu, kmi juga memberikan bantuan
fisik berupa peralatan tanggap darurat
seperti Tenda, Tandu,Bidai,Senter,sepatu hujan,Radio,generator ,kotak P3K DLL.
Selain itu kami juga memberikan bantuan bagi kegiatan perlindungan mata air di
Desa Oeniko dan Desa Noenoni.
RI : Kendala
yang dihadapi
JN
: tentu dalam pelaksanaan sebuah kegiatan tidak akan berjalan mulus, tetapi hal
ini tidak menyurutkan niat untuk terus berusaha. PMPB menyadari bahwa pelaksaan
program satu tahun belum lah cukup untuk
membangun pemahaman masyarakat,ketrampilan dan juga pengalaman. Selain
itu untuk merubah cara pandang masyarakat terhadap penanggulangan bencana
dari bantuan darurat menuju ke tahap kesiapsiagaan membutuhkan
proses. Orang lebih melihat bencana pada saat kejadian. Bencan atidak dilihat
sebagai bagain dari proses pembangunan.
RI : Selain kendala, adakah kesuksesaan
yang diraih oelh PMPB dalam program ini
JN : saya kita untuk mengukur kesuksesan
banyak indikator yang harus dilihat. Atau dengan kata lain sukses menurut
siapa? Tentu dari kacamata PMPB , dari
sisi kegiatan, kami sudah melaksanakan semua kegiatan yang direncanakan. Tentu
masyarakat juga memiliki kisah sukses tersendiri dari program yang sudah kami
laksanakan. Saya kira kita juga perlu mengapresiasi sekecil apapun keberhasilan
yang sudah diraih oleh masyarakat. Conroh sederhana, bagi kami memasukkan upaya
penanggulangan bencana dalam rencana
kerja tahunan desa merupakan sebuah keberhasilan , tetapi apakah orang luar
melihat itu sebagai sebuah keberhasilan. Yang terpenting bagai kami
adalah keberlanjutan program
RI
: Bagaimaa keberlanjutan program ini
JN
: Bantuan pihak lain selalu dibatasi oleh waktu. Sehingga dari awal program
perlu dipikirkan keberlanjutan program ini. PMPB memiliki strategi tersendiri
untuk menjaga keberlanjutan program ini. Salah satu yang dilakukan adalah
memasukkan rencana aksi masyarakat untuk PRB dan API kedalam rencana
pembangunan desa dan sekolah sehingga ada pembiayaan dari desa dan sekolah.
Selain itu, desa – desa juga sudah menghasilkan peraturan desa tentang
penanggulangan bencana. Dengan adanya
dukungan payung hukum di desa ,diharapkan akan memperlancar proses
keberlanjutan program di desa dan sekolah.
RI : mengakhiri wwancara ini, kami ingin komentara
penutup dari bapak.
JN : ha...ha... saya ingin menutup wawancara
ini dengan sebuah kalimat, bencana terjadi karena bencana sebelumnya
terlupakan. Kalau kita tidak belajar dari pengalaman bencana kali lalu dan
memperbaikinya, maka risiko akan semakin besar kita hadapi. Mulailah dengan
mengelola risiko bencana dari diri kita sendiri.
RI : Terima kasih pak, atas waktunya.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar